Yuan China Melemah dari Rekor Tertinggi Tiga Tahun, Sinyal Ekonomi Mulai Melambat



KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Mata uang yuan China menghentikan penguatannya pada Senin (1/6/2026) setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terhadap dolar AS. Pelemahan tipis ini terjadi setelah data terbaru menunjukkan aktivitas manufaktur China stagnan pada Mei, menandakan momentum pemulihan ekonomi mulai melambat.

Di pasar domestik, yuan tercatat melemah 0,03% menjadi 6,7682 per dolar AS setelah menguat selama dua pekan berturut-turut dan menyentuh level terkuat sejak awal 2023. Sementara itu, yuan offshore diperdagangkan pada level 6,7671 per dolar AS, juga turun sekitar 0,03% dalam perdagangan Asia.

Survei resmi yang dirilis pada Minggu (31/5/2026) menunjukkan aktivitas pabrik di China tidak mengalami pertumbuhan pada Mei. Pesanan ekspor baru tercatat turun tajam, melanjutkan sinyal perlambatan yang sebelumnya terlihat pada data ekonomi April.


Baca Juga: Belanja Modal Korporasi Melambat, Pertumbuhan Ekonomi Jepang Terancam Direvisi

Analis Nanhua Futures menilai kekuatan yuan belakangan ini masih ditopang oleh kinerja ekspor yang relatif solid. Namun, dukungan tersebut berpotensi melemah apabila pertumbuhan ekspor mengalami perlambatan yang lebih signifikan.

"Meski fundamental ekonomi mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan, yuan masih relatif kuat karena didukung data ekspor. Jika pertumbuhan ekspor melambat tajam, faktor pendukung apresiasi yuan dalam jangka pendek bisa berkurang," tulis Nanhua Futures dalam laporannya.

Penguatan yuan dalam beberapa waktu terakhir juga mendorong perusahaan-perusahaan China menunda pembelian dolar AS dan mempercepat konversi devisa hasil ekspor ke mata uang lokal. Namun, analis memperingatkan bahwa permintaan dolar yang tertahan, terutama terkait pembayaran dividen perusahaan, dapat muncul secara bersamaan apabila penguatan yuan mereda dan berpotensi menekan nilai tukar.

Senada dengan itu, Bank of America memperkirakan dolar AS akan mendapat dukungan musiman terhadap yuan pada periode Juni hingga Agustus. Periode tersebut biasanya menjadi puncak pembayaran dividen perusahaan-perusahaan China yang tercatat di Bursa Hong Kong.

Sebelum perdagangan dibuka, Bank Sentral China (PBOC) menetapkan kurs tengah yuan di level 6,8167 per dolar AS, yang merupakan posisi terkuat sejak 14 Februari 2023. Dalam sistem nilai tukar China, yuan diperbolehkan bergerak hingga 2% di atas atau di bawah kurs tengah yang ditetapkan bank sentral setiap harinya.

Di pasar global, dolar AS menguat tipis setelah mengalami pelemahan pada pekan sebelumnya. Investor menanti perkembangan perundingan perdamaian di Timur Tengah serta petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank-bank sentral utama dunia.

Baca Juga: Resmi Diperkenalkan, PLX Asia bakal Fokus pada Ekosistem Merek Privat

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama lainnya naik 0,04% menjadi 99,05.

Sementara itu, harga minyak dunia melonjak lebih dari 2% pada awal perdagangan setelah Israel memerintahkan pasukannya bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon dalam konflik dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Eskalasi tersebut terjadi meskipun gencatan senjata telah diumumkan lebih dari enam minggu lalu.

Ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah diperkirakan akan terus menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan mata uang global, termasuk yuan dan dolar AS, dalam beberapa waktu ke depan.