Yuan China Melemah ke Level Terendah Dua Pekan, Konflik Iran Tekan Sentimen



KONTAN.CO.ID - Mata uang China, yuan, melemah ke level terendah dalam dua pekan terhadap dolar AS pada Senin (23/3/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar sebagai aset safe haven.

Di pasar domestik, yuan diperdagangkan di level 6,9098 per dolar AS pada perdagangan siang hari, melemah sekitar 0,1% dibandingkan penutupan Jumat lalu.

Baca Juga: Badan Cuaca PBB: Dekade 2015-2025 Terpanas Sejak 1850


Penguatan dolar terjadi di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta rencana Israel untuk melanjutkan operasi militer dalam beberapa pekan ke depan, yang memicu ketidakpastian di pasar global.

Indeks dolar AS tercatat naik sekitar 0,14% di sesi Asia, setelah melonjak lebih dari 2% sepanjang bulan ini.

Meski demikian, sejumlah analis menilai tren jangka menengah yuan masih positif, didukung oleh fundamental ekonomi China yang membaik.

Dalam catatan risetnya, Nanhua Futures menyebutkan bahwa meskipun indeks dolar masih berada dalam tren menguat, ruang kenaikannya terbatas oleh faktor fundamental.

Namun dalam jangka pendek, yuan diperkirakan akan bergerak volatil akibat tekanan dolar dan berkurangnya faktor musiman yang biasanya mendukung penguatan mata uang tersebut.

Sementara itu, Goldman Sachs menilai dampak konflik Iran terhadap China sangat bergantung pada kondisi permintaan dan pasokan global.

Jika harga minyak terus melonjak dan menekan permintaan global, maka ekspor dan pertumbuhan ekonomi China berpotensi terdampak signifikan.

Untuk menjaga daya tarik investasi, Perdana Menteri China Li Qiang menegaskan komitmen pemerintah untuk membuka ekonomi lebih luas bagi investor asing serta mendorong keseimbangan perdagangan dengan mitra global.

Di sisi lain, Gubernur bank sentral China Pan Gongsheng menegaskan bahwa China tidak memiliki niat untuk menggunakan depresiasi mata uang sebagai alat untuk meningkatkan daya saing perdagangan.

Baca Juga: China Menyambut Rencana Investasi dari Temasek Singapura

Data terbaru juga menunjukkan arus masuk devisa masih berlanjut pada Februari, seiring meningkatnya pandangan pelaku pasar bahwa penguatan yuan merupakan tren struktural.

Analis menilai China memiliki bantalan yang cukup kuat untuk meredam dampak lonjakan harga minyak.

Bahkan dalam jangka menengah, konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan permintaan global terhadap produk energi baru (green energy) asal China, yang dapat menjadi katalis positif bagi ekspor negara tersebut.