KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yuan China menguat tipis dan bergerak mendekati level tertinggi dalam sekitar 3,5 tahun terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (17/8/2026). Pergerakan yuan terjadi di tengah pelemahan dolar AS dan menjelang rilis sejumlah data ekonomi China. Mengutip
Reuters, yuan di pasar spot tercatat naik tipis ke 6,7411 per dolar AS, mendekati level terkuat sejak Februari 2023 di 6,74 yang dicapai pada pekan lalu.
Baca Juga: Vietnam Targetkan Rasio Jenis Kelamin Bayi Kembali Normal pada 2035 Sementara itu, yuan offshore menguat sekitar 0,04% menjadi 6,7415 per dolar AS dalam perdagangan Asia. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,07% menjadi 99,52, mendekati level terlemahnya sepanjang bulan ini. Pelemahan dolar AS terjadi setelah penjualan ritel AS secara tak terduga turun pada Juli. Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga pada September. Sepanjang Agustus 2026, yuan telah menguat sekitar 0,7% terhadap dolar AS. Sementara sejak awal tahun, yuan telah menguat sekitar 3,8%. "Kami meyakini kondisi untuk pelemahan dolar AS lebih lanjut mulai terbentuk, meskipun masih diperlukan konfirmasi kebijakan untuk memberikan sinyal yang jelas," tulis analis CICC dalam sebuah catatan. Menurut mereka, kondisi pasar secara umum telah bergerak ke arah yang menguntungkan yuan sehingga menciptakan kecenderungan penguatan yang cukup kuat.
Baca Juga: Ekonomi Thailand Tumbuh 1,9% di Kuartal II 2026, Lampaui Perkiraan PBOC Jaga Laju Penguatan Yuan Meski demikian, Bank Sentral China atau People's Bank of China (PBOC) diperkirakan tetap berupaya mengendalikan laju penguatan yuan agar tidak terlalu cepat. Sebelum perdagangan dibuka, PBOC menetapkan nilai tengah yuan di level 6,7873 per dolar AS, yang merupakan level terkuat sejak 8 Februari 2023. Nilai tersebut juga 491 pips lebih lemah dibandingkan estimasi Reuters. Yuan spot diperbolehkan bergerak maksimal 2% di atas atau di bawah nilai tengah yang ditetapkan bank sentral setiap hari. Trader dan analis mengatakan, PBOC secara bertahap memperkuat panduan nilai tukar yuan harian, tetapi tetap menetapkannya pada level yang lebih lemah dibandingkan ekspektasi pasar. "Premi fixing yang cukup besar menunjukkan resistensi terhadap penguatan yang terlalu cepat dan memungkinkan yuan terapresiasi secara terukur," tulis analis OCBC. Kebijakan tersebut menunjukkan PBOC berupaya menjaga stabilitas ekspektasi pasar sekaligus memberikan ruang bagi yuan untuk menguat secara bertahap.
Baca Juga: Bursa Australia Terkoreksi Senin (17/8), Kinerja NAB dan JB Hi-Fi Tekan Pasar Pasar Menanti Data Ekonomi China Pelaku pasar kini menunggu serangkaian data ekonomi China yang akan dirilis pada Senin. Data tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut. Sebelumnya, data penyaluran kredit perbankan China pada Juli mencatat kontraksi terbesar sepanjang sejarah, mencerminkan melemahnya permintaan kredit.
Untuk Juli, produksi industri China diperkirakan tumbuh 4,8% secara tahunan, melambat dari pertumbuhan 5,3% pada Juni. Sementara itu, penjualan ritel diperkirakan tumbuh 1,5%, membaik dibandingkan pertumbuhan 1% pada periode sebelumnya. Data tersebut akan menjadi perhatian investor untuk melihat apakah perlambatan ekonomi China semakin dalam atau mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.
Baca Juga: Mata Uang Asia Menguat Senin (17/8), Dolar Taiwan Pimpin Kenaikan