Yuan China Menguat ke Level Tertinggi 3,5 Tahun Jelang Pertemuan Trump-Xi



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yuan China menguat ke level tertinggi dalam lebih dari 3,5 tahun terhadap dolar AS pada Senin (21/9/2026).

Penguatan terjadi menjelang pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada pekan ini.

Melansir Reuters, Yuan di pasar domestik sempat menguat hingga 6,6950 per dolar AS, level terkuat sejak 16 Januari 2023. Pada akhir sesi perdagangan domestik, yuan berada di 6,6955 per dolar AS, sekaligus menjadi penutupan terkuat sejak 30 Juni 2022.


Sementara itu, yuan offshore diperdagangkan di level 6,6946 per dolar AS atau menguat sekitar 0,03% dalam perdagangan Asia.

Baca Juga: Bursa China Menguat Jelang Trump-Xi Senin (21/9), Saham Properti Melonjak 6,9%

Penguatan yuan terjadi setelah People's Bank of China (PBOC) memperkuat nilai tengah kurs harian. Sebelum pembukaan pasar, PBOC menetapkan midpoint rate pada 6,7487 per dolar AS, level terkuat sejak 3 Februari 2023.

Kurs spot yuan diperbolehkan bergerak dalam kisaran 2% di atas atau di bawah nilai tengah yang ditetapkan PBOC setiap hari.

Dalam hampir setahun terakhir, PBOC secara konsisten menetapkan nilai tengah yuan lebih lemah dibandingkan ekspektasi pasar. Kebijakan tersebut dipandang pelaku pasar sebagai upaya bank sentral menahan laju apresiasi yuan.

Namun, pola tersebut mulai berubah pada September. Nilai tengah yuan menguat lebih cepat dan selisihnya dengan ekspektasi pasar semakin menyempit.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat Tipis Senin (21/9), Rupiah Tertekan Jelang Keputusan Suku Bunga BI

Kondisi ini mengindikasikan PBOC mulai mengurangi resistensinya terhadap penguatan mata uang China.

Analis Goldman Sachs menilai, penguatan fixing yuan menjelang pertemuan Trump-Xi sejalan dengan pola yang pernah terjadi sebelumnya.

Kondisi tersebut memberikan ruang lebih besar bagi yuan offshore untuk melanjutkan penguatan.

“Pertemuan puncak ini seharusnya membantu menjaga hubungan perdagangan yang stabil. Pembuat kebijakan di China seharusnya tetap nyaman membiarkan apresiasi mata uang berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan,” tulis analis Goldman Sachs dalam catatannya.

Pertemuan Trump dan Xi dijadwalkan berlangsung pada 23-25 September. Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng telah menyelesaikan pembicaraan di New York pada Minggu (20/9), sebagai persiapan menuju pertemuan kedua pemimpin negara.

Baca Juga: Hanya 17 Kapal Lewati Selat Hormuz, Distribusi Minyak Dunia Terancam

Sejumlah isu diperkirakan menjadi pembahasan, mulai dari kecerdasan buatan (AI), hubungan perdagangan, rantai pasok hingga ketegangan di Timur Tengah.

Namun, analis memperkirakan pertemuan tersebut belum tentu menghasilkan terobosan kebijakan besar.

Penguatan yuan yang relatif stabil juga dinilai dapat menciptakan kondisi yang lebih konstruktif dalam negosiasi AS-China.

Selain itu, apresiasi yuan dapat mengurangi ruang munculnya tudingan bahwa China sengaja melemahkan mata uangnya untuk meningkatkan daya saing ekspor.

Meski demikian, OCBC mengingatkan investor agar tidak langsung mengartikan perubahan kebijakan PBOC sebagai awal dari siklus apresiasi yuan yang berkelanjutan.

“Dengan selisih imbal hasil AS-China yang masih lebar dan fundamental domestik yang masih lemah, sebagian apresiasi baru-baru ini mungkin mencerminkan stabilitas yang dikelola kebijakan di sekitar pertemuan tersebut, bukan perubahan fundamental dalam valuasi renminbi,” tulis OCBC dalam catatannya.

Baca Juga: ASX Rombak Manajemen, Percepat Transformasi Teknologi Bursa Australia

Di pasar valuta asing global, pergerakan dolar AS relatif terbatas pada Senin. Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama berada di 100,23, setelah menguat lebih dari 1% pada pekan sebelumnya menyusul kenaikan suku bunga Federal Reserve yang bernada hawkish.