KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yuan China menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (19/8/2026), ditopang pelemahan dolar dan penguatan kurs tengah yang ditetapkan bank sentral China. Mengutip
Reuters, yuan spot naik 0,07% menjadi 6,7408 per dolar AS pada pukul 03.51 GMT. Pergerakan yuan berada di kisaran 6,7400 hingga 6,7439 per dolar.
Baca Juga: Viral, Otoritas Vietnam Buka Suara soal Kecelakaan Maut Mantan Politisi Level tersebut masih berada tidak jauh dari posisi terkuat yuan sejak Februari 2023, yakni 6,7370 per dolar yang tercapai pada Senin (17/8). Penguatan yuan terjadi ketika dolar AS masih berada di bawah tekanan. Indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama berada di level 99,58, mendekati posisi terendah dalam beberapa bulan terakhir. Kurs Tengah Yuan Menguat Sebelum perdagangan dibuka, People's Bank of China (PBOC) menetapkan kurs tengah yuan di 6,7854 per dolar AS. Level tersebut menjadi kurs tengah terkuat sejak 8 Februari 2023. Penetapan tersebut juga sekitar 433 pip lebih lemah dibandingkan estimasi Reuters.
Baca Juga: Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Melambat, Pasokan Minyak Global Terancam Terganggu Dalam sistem nilai tukar China, yuan spot diperbolehkan bergerak maksimal 2% di atas atau di bawah kurs tengah yang ditetapkan PBOC setiap hari. Ekonom Julius Baer David A. Meier mengatakan, China masih memberikan ruang bagi apresiasi yuan secara bertahap. "China terus mengizinkan apresiasi renminbi yang undervalued secara bertahap. Dengan preferensi untuk tidak melemahkan ekspor, kami tetap memperkirakan penguatan secara perlahan," ujar Meier dalam catatannya. Yuan telah menguat sekitar 0,7% terhadap dolar sepanjang Agustus dan menguat 3,8% sejak awal tahun 2026. Penguatan tersebut didukung pelemahan dolar AS dan kinerja ekspor China yang solid. BofA Naikkan Proyeksi Yuan Prospek penguatan yuan juga tercermin dari perubahan proyeksi Bank of America (BofA) Securities. Pekan ini, BofA menaikkan proyeksi nilai tukar USD/CNY pada akhir tahun menjadi 6,6 yuan per dolar, dari perkiraan sebelumnya 6,7 yuan.
Baca Juga: Aksi Jual Obligasi Melambat, Pasar Saham Global Masih Goyah Analis BofA menyebut konversi penerimaan ekspor dan posisi yuan yang masih undervalued menjadi faktor utama yang mendukung proyeksi tersebut. Selain itu, tekanan dari negara-negara G7 untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan juga menjadi pertimbangan. Di sisi lain, tekanan terhadap dolar AS semakin kuat setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007. Kenaikan imbal hasil tersebut dipicu kekhawatiran mengenai geopolitik dan tingginya utang pemerintah. Pasar kini juga menantikan risalah rapat kebijakan terbaru Federal Reserve (The Fed) yang akan dirilis pada Rabu.
Investor akan mencermati risalah tersebut untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS selanjutnya.
Baca Juga: Korea Selatan Blokir Polymarket, Platform Prediksi Kripto Dianggap Judi Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed dapat kembali memengaruhi pergerakan dolar dan yuan. Sementara itu, yuan offshore juga menguat sekitar 0,07% menjadi 6,7423 per dolar AS dalam perdagangan Asia.