Yunani belum beres, China sudah menanti



JAKARTA. Krisis Yunani menekan pasar global, termasuk Indonesia. Mayoritas rakyat Yunani berteriak "No" pada skema penghematan usulan  kreditur. Merespons hasil itu, pasar regional tersungkur.

Kemarin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,3% menjadi 4.916,74, mengekor mayoritas indeks bursa saham Asia. Indeks MSCI Asia Pasifik turun 2% ke 143,52 pukul 16:12 waktu Hong Kong.

Sementara pukul 22:45 WIB tadi malam, indeks Dow Jones turun 0,26% dan indeks DAX Jerman turun 1,48%. Indeks Euro Stoxx, yang menghimpun 50 saham papan atas 12 negara Uni Eropa, merosot 2,2%. Semua itu efek tuah vonis "No" rakyat Yunani.


Harry Su, Kepala Riset Bahana Securities menilai, pelemahan IHSG seirama pelemahan rupiah. Ia memprediksi dollar AS masih terus menguat dan bisa menekan rupiah lebih lanjut. Ini tentu akan mempengaruhi pertumbuhan laba perusahaan dan IHSG hingga akhir tahun.

Saat ini, target IHSG Bahana Securities masih 5.100 pada akhir 2015. Tapi efek Yunani bisa mendorong Bahana merevisi target itu. "Hitungan kami, tiap 1% pelemahan rupiah, pertumbuhan IHSG terkikis 0,8%," imbuh Harry.

Satrio Utomo, Kepala Riset Universal Broker Indonesia bilang, efek Yunani perlu diwaspadai. Sebab, IHSG berpotensi turun ke support baru 4.910. Jika isu Yunani masih kuat, IHSG menguji 4.850 pekan ini. Jika IHSG di bawah 4.825, ada sinyal negatif dalam tempo lebih panjang.

Nah, di luar Yunani dan The Fed, mata pasar juga tertuju ke China. Sebab, fluktuasi indeks Shanghai masih kencang. Usai mencapai  5.131,88 pada 8 Juni lalu, bursa Shanghai terus anjlok.

Kemarin indeks ini tutup di 3.775,91 atau turun 26,4% sejak 8 Juni. Demi meredakan gejolak ini, regulator bursa  Shanghai menunda penawaran saham perdana dan disinsentif bagi pelaku short sell.  

Para bandar besar pun mulai bersiaga. Mengutip Bloomberg Minggu (5/7), akhir pekan lalu,  21 broker di Tiongkok berkomitmen mengumpulkan CNY 120 miliar atau sekitar US$19,3 miliar sebagai dana stabilisasi harga saham. Resep para broker itu sama seperti Amerika Serikat  saat mencoba menahan  Great Depression tahun 1929.

Tapi pasar pesimistis karena upaya itu bak menggarami lautan. Sebab nilai transaksi saham di bursa China mendekati CNY 2 triliun. "CNY 120 miliar tak akan bertahan sejam," kata Hao Hong, Strategist di Bocom International Holdings Co di Hong Kong.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto