KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy membahas upaya menghidupkan kembali perundingan damai dengan Rusia serta rencana produksi rudal pencegat Patriot di Ukraina dalam pertemuan di Gedung Putih pada Selasa (28/7/2026). Mengutip
Reuters, Zelenskiy bertemu Trump secara tertutup di Ruang Oval sebelum keduanya menghadiri upacara penghormatan terakhir bagi Senator Lindsey Graham, salah satu pendukung paling vokal Ukraina di Kongres AS.
Baca Juga: Donald Trump Bertemu Zelenskiy dan Netanyahu, Apa yang Dibahas? Selain bertemu Trump, Zelenskiy juga mengadakan pembicaraan dengan Presiden Finlandia Alexander Stubb di Washington dan bertemu sejumlah senator AS di Gedung Capitol. Kunjungan singkat tersebut menjadi kesempatan bagi Zelenskiy untuk memperkuat dukungan militer Washington terhadap Ukraina di tengah membaiknya hubungan kedua pemimpin dalam beberapa bulan terakhir. Namun, Amerika Serikat masih menahan sebagian bantuan militer untuk Kyiv, sementara wafatnya Graham membuat Ukraina kehilangan salah satu sekutu terkuatnya di Washington. Usai bertemu para senator, Zelenskiy mengatakan dirinya menekankan kebutuhan mendesak Ukraina akan sistem pertahanan rudal balistik dan rudal pencegat untuk menghadapi serangan Rusia. "Masalah utama kami adalah sistem anti-rudal balistik dan rudal pencegatnya. Tentu saja saya menyampaikan apa yang kami butuhkan," ujar Zelenskiy.
Baca Juga: Pemerintahan Trump Tutup Pintu Bagi Robot Humanoid China di Pasar AS Ia menjelaskan, Ukraina telah memiliki drone yang mampu menghancurkan drone buatan Iran maupun Rusia, tetapi masih membutuhkan lebih banyak persenjataan untuk menghadapi rudal balistik yang diluncurkan Moskow. Melalui akun Telegram, Zelenskiy mengatakan pertemuannya dengan Trump berlangsung baik. Salah satu pembahasan utama adalah janji Trump pada KTT NATO awal bulan ini untuk memberikan lisensi kepada Ukraina agar dapat memproduksi sendiri rudal pencegat Patriot. "Kami membahas lisensi produksi rudal pencegat Patriot dan sejumlah gagasan lain yang dapat membantu," kata Zelenskiy. Ia menambahkan, kedua pemimpin juga membicarakan jalur diplomasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung memasuki tahun kelima. "Kami juga membahas diplomasi. Penting untuk mempercepat proses diplomatik," ujarnya. Dua sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Trump, sepakat akan mengunjungi Ukraina untuk pertama kalinya sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali mediasi antara Kyiv dan Moskow.
Baca Juga: Harga Emas Spot Turun Tipis, Pasar Tunggu Kebijakan The Fed Keduanya diketahui telah beberapa kali mengunjungi Rusia dan bertemu Presiden Vladimir Putin sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025. Secara terpisah, Zelenskiy juga mengungkapkan telah bertemu dengan pejabat Lockheed Martin, produsen senjata terbesar di dunia sekaligus salah satu pembuat rudal Patriot. Menurutnya, tim dari kedua pihak tengah menyusun solusi agar produksi bersama dapat segera direalisasikan. Hubungan membaik Setelah menghadiri pemakaman Graham, Zelenskiy menggelar pertemuan hampir satu jam dengan para senator AS sebelum menyaksikan pemungutan suara terkait paket sanksi baru terhadap Rusia. Zelenskiy menyebut tekanan melalui sanksi sangat penting untuk melemahkan kemampuan Rusia membiayai perang sekaligus menunjukkan dukungan Amerika Serikat kepada rakyat Ukraina.
Baca Juga: UEFA Murka FIFA Jual Saham Piala Dunia, Apa yang Sebenarnya Diperdebatkan? Pemimpin Minoritas Senat AS Chuck Schumer mengatakan paket sanksi tersebut akan mengirim pesan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa Moskow tidak dapat memaksa Ukraina menyerah. "Melalui pemungutan suara ini, kami ingin menunjukkan kepada Putin bahwa dia tidak bisa menggertak Ukraina. Amerika berdiri di belakang Ukraina," kata Schumer. Kunjungan Zelenskiy berlangsung setelah Departemen Pertahanan AS memberi tahu Kongres bahwa dana bantuan senilai US$ 400 juta yang telah disetujui sebelumnya tidak akan seluruhnya dicairkan hingga tahun fiskal 2029. Kebijakan tersebut menuai kritik dari Partai Demokrat maupun sebagian anggota Partai Republik karena dinilai memperlambat dukungan militer bagi Ukraina. Hubungan Trump dan Zelenskiy sempat diwarnai ketegangan pada awal masa jabatan kedua Trump.
Namun, hubungan keduanya membaik dalam beberapa bulan terakhir seiring meningkatnya keberhasilan Ukraina di medan perang, termasuk melalui serangan terhadap infrastruktur industri minyak Rusia.
Baca Juga: Kalahkan Indonesia, Negeri Jiran Ini Segera Jadi Negara Maju Menurut Bank Dunia Senator Lindsey Graham, yang meninggal akibat gangguan jantung pada 11 Juli dalam usia 71 tahun, dikenal sebagai salah satu sekutu terdekat Trump sekaligus pendukung kuat Ukraina. Sehari sebelum wafat, ia masih sempat mengunjungi Kyiv, yang menjadi kunjungan ke-10 sejak invasi Rusia pada 2022.