KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas pangan masih menjadi tantangan pemerintah dalam mengejar swasembada pangan. Impor gandum, gula, dan kedelai masih mencapai jutaan ton untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor biji gandum dan meslin mencapai 10,84 juta ton pada 2025. Pada periode yang sama, impor gula tercatat 3,93 juta ton dan kedelai mencapai 2,56 juta ton. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut impor beras Indonesia mencapai 4,5 juta ton pada 2024. Zulhas menilai, ketergantungan terhadap impor pangan perlu dikurangi dengan meningkatkan produktivitas pertanian dalam negeri. Menurut dia, tingginya biaya produksi membuat komoditas lokal sulit bersaing dengan produk dari negara lain. Baca Juga: Cuaca Panas yang Melanda Perkotaan Mengancam Hunian Warga Miskin “Tidak mungkin satu bangsa menjadi bangsa yang maju, kalau makan saja tergantung kepada orang,” ujar Zulhas dalam pemaparannya di acara Agrinex, Jakarta, Jumat (23/10/2026). Ia mencontohkan biaya produksi gula di Indonesia yang mencapai Rp 14.000–Rp 15.000 per kg. Sementara itu, biaya produksi gula di Thailand dan Brasil disebut sekitar Rp 4.000 per kg. Perbedaan biaya produksi juga terjadi pada beras. Zulhas menyebut biaya produksi beras di Indonesia mencapai Rp 12.000–Rp 14.000 per kg, sedangkan di Vietnam, Thailand, dan India sekitar Rp 4.000 per kg. “Artinya, produktivitas terendah, lama-lama kita pasti tertinggal dari negara-negara lain,” kata Zulhas. Pemerintah berupaya meningkatkan produktivitas melalui optimalisasi lahan pertanian, perbaikan irigasi, dan penyederhanaan penyaluran pupuk. Berdasarkan panel harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata harga gabah naik dari Rp 5.000 per kg pada Oktober 2024 menjadi Rp 6.500 per kg pada Oktober 2025. Pada periode yang sama, rata-rata harga jagung meningkat dari Rp 4.521 per kg menjadi Rp 5.500 per kg. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Zulhas Ungkap Biaya Produksi Pangan RI Lebih Mahal dari Negara Lain
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas pangan masih menjadi tantangan pemerintah dalam mengejar swasembada pangan. Impor gandum, gula, dan kedelai masih mencapai jutaan ton untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor biji gandum dan meslin mencapai 10,84 juta ton pada 2025. Pada periode yang sama, impor gula tercatat 3,93 juta ton dan kedelai mencapai 2,56 juta ton. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut impor beras Indonesia mencapai 4,5 juta ton pada 2024. Zulhas menilai, ketergantungan terhadap impor pangan perlu dikurangi dengan meningkatkan produktivitas pertanian dalam negeri. Menurut dia, tingginya biaya produksi membuat komoditas lokal sulit bersaing dengan produk dari negara lain. Baca Juga: Cuaca Panas yang Melanda Perkotaan Mengancam Hunian Warga Miskin “Tidak mungkin satu bangsa menjadi bangsa yang maju, kalau makan saja tergantung kepada orang,” ujar Zulhas dalam pemaparannya di acara Agrinex, Jakarta, Jumat (23/10/2026). Ia mencontohkan biaya produksi gula di Indonesia yang mencapai Rp 14.000–Rp 15.000 per kg. Sementara itu, biaya produksi gula di Thailand dan Brasil disebut sekitar Rp 4.000 per kg. Perbedaan biaya produksi juga terjadi pada beras. Zulhas menyebut biaya produksi beras di Indonesia mencapai Rp 12.000–Rp 14.000 per kg, sedangkan di Vietnam, Thailand, dan India sekitar Rp 4.000 per kg. “Artinya, produktivitas terendah, lama-lama kita pasti tertinggal dari negara-negara lain,” kata Zulhas. Pemerintah berupaya meningkatkan produktivitas melalui optimalisasi lahan pertanian, perbaikan irigasi, dan penyederhanaan penyaluran pupuk. Berdasarkan panel harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata harga gabah naik dari Rp 5.000 per kg pada Oktober 2024 menjadi Rp 6.500 per kg pada Oktober 2025. Pada periode yang sama, rata-rata harga jagung meningkat dari Rp 4.521 per kg menjadi Rp 5.500 per kg. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
TAG: