KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai dimanfaatkan industri perasuransian, khususnya pada lini asuransi kesehatan. Adapun pemanfaatan AI bertujuan untuk mendukung peningkatan efisiensi operasional dan kualitas layanan. Secara rinci, OJK menyebut pemanfaatan AI pada lini asuransi kesehatan digunakan dalam proses underwriting, pengelolaan klaim, deteksi potensi fraud, analisis data kesehatan, serta layanan pelanggan melalui chatbot. Selain itu, digunakan juga untuk pengembangan produk yang lebih sesuai dengan profil risiko dan kebutuhan nasabah. Mengenai hal itu, PT Zurich Topas Life (Zurich Life) mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan secara bertahap pada lini asuransi kesehatan. Chief Operating Officer Zurich Life Dennis Anwar menerangkan penerapannya untuk mendukung efisiensi operasional, termasuk pada beberapa proses klaim yang bersifat sederhana.
Baca Juga: AAUI: Pengembangan Proyek Blok Masela Dapat Jadi Peluang bagi Asuransi Umum Namun, Dennis bilang, penerapan AI belum digunakan secara end-to-end maupun sebagai pengambil keputusan akhir dalam proses klaim. "Seluruh keputusan penting tetap melalui peninjauan dan validasi oleh tim yang berwenang untuk memastikan kualitas layanan, akurasi, dan kepatuhan terhadap regulasi," katanya kepada Kontan, Selasa (11/8/2026). Dennis bilang, implementasi AI di Zurich Life merupakan bagian dari upaya transformasi digital yang dilakukan secara terukur dan sesuai kebutuhan bisnis. Lebih lanjut, Dennis mengatakan, besaran investasi yang dialokasikan untuk penerapan AI pada lini asuransi kesehatan dikelola secara prudent dan disesuaikan dengan prioritas strategis perusahaan, skala implementasi, serta potensi manfaat jangka panjang. Secara umum, dia menyebut investasi teknologi dapat bersifat signifikan. "Namun, Zurich Life berupaya mengoptimalkan biaya dengan memastikan setiap inisiatif memberikan nilai tambah yang jelas bagi nasabah maupun perusahaan," ucapnya. Secara keseluruhan, Dennis menerangkan AI masih berperan sebagai alat pendukung pengambilan keputusan (decision support tool), sedangkan keputusan akhir tetap dilakukan melalui mekanisme review oleh team berwenang. Per Juni 2026, Dennis mengungkapkan, rasio klaim lini asuransi kesehatan dari Zurich Life masih terkendali dan dapat diakomodasi oleh kinerja Annual Premium Equivalent (APE) yang tumbuh 8% secara Year on Year (YoY). Ke depannya, dia bilang pihaknya akan terus mengembangkan layanan klaim yang memberikan nilai tambah untuk nasabah Zurich Life.
Baca Juga: Ini 10 Unitlink Saham yang Cetak Return Tertinggi Selama Juli 2026 Dari perspektif OJK, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menjelaskan pemanfaatan AI merupakan bagian dari transformasi digital yang dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas layanan industri perasuransian. Meski demikian, dia menyebut penerapan AI harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan didukung tata kelola yang baik dan penerapan manajemen risiko memadai. "Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa risiko yang timbul dari penggunaan AI, seperti risiko operasional, siber, model (model risk), pelindungan data pribadi, serta bias algoritma, telah diidentifikasi, diukur, dipantau, dan dikendalikan secara efektif," katanya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, beberapa waktu lalu.
Ogi menyampaikan, penggunaan AI juga tidak menghilangkan tanggung jawab direksi dan manajemen perusahaan dalam memastikan bahwa setiap keputusan yang dihasilkan tetap dapat dipertanggungjawabkan, transparan, adil, dan tidak merugikan konsumen. Sementara itu, Ogi memandang bahwa penerapan AI harus sejalan dengan prinsip kehati-hatian (prudential principle). Dengan demikian, inovasi teknologi tidak mengorbankan kualitas pengelolaan risiko maupun pelindungan konsumen. Ke depannya, OJK mendukung pemanfaatan AI sebagai salah satu pendorong inovasi dan peningkatan daya saing industri perasuransian. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News