Zurich Nilai Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Tingkatkan Klaim Kesehatan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi menyebabkan kenaikan biaya medis. PT Zurich Asuransi Indonesia menyebut kenaikan dari biaya perawatan medis memang tidak terlepas dari posisi Rupiah terhadap mata uang asing. Alhasil, biaya medis bisa saja menjadi lebih mahal dari sebelumnya.

Dengan demikian, Direktur PT Zurich Asuransi Indonesia Musi Samosir menerangkan hal itu menjadi salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan klaim di lini asuransi kesehatan dan perlu disikapi secara bersama-sama. Untuk klaim kesehatan di Zurich, Musi tak memungkiri selalu ada kenaikan yang sejalan dengan medical inflation. 

"Jadi, kami pasti sangat terdampak dengan kondisi yang terjadi secara makro. Medical inflation salah satu faktor yang berdampak langsung ke klaim asuransi kesehatan di Zurich," ungkapnya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (3/11).


Baca Juga: Samir Catat Rata-rata Pinjaman Rp 3 Juta per Transaksi hingga Oktober 2026

Dalam menyikapi kondisi itu, Musi menyampaikan pihaknya menerapkan sejumlah upaya agar klaim kesehatan tetap terkendali. Dia bilang Zurich melakukan tindakan-tindakan yang lebih proaktif bersama dengan nasabah. 

"Jadi, pada saat orang sakit, balik klaim ke kami. Itu tentu saja value dari insurance, yakni janji finansialnya produk asuransi. Namun, pada saat orang masih sehat, apa yang bisa dilakukan asuransi? Jadi, Zurich berinvestasi di kemampuan, capability, service atau layanan yang bisa diberikan kepada nasabah saat mereka sehat," tuturnya.

Musi juga mengatakan Zurich adalah bagian dari ekosistem asuransi kesehatan, sehingga perusahaan harus bekerja sama dengan komponen-komponen atau pemain-pemain lain yang ada di ekosistem tersebut, termasuk rumah sakit dalam memahami soal layanan kesehatan. 

Dia bilang pihaknya bisa bekerja sama lebih memahami unsur yang mendorong biaya-biaya klaim dan mencari solusi terbaik untuk pasien atau nasabah. Dengan demikian, tingkat biaya yang dikeluarkan untuk layanan kesehatan bisa lebih sustainable.

Selain itu, Musi menyebut Zurich juga berinvestasi di teknologi, terutama data. Menurutnya, data itu menjadi fondasi yang sangat penting. Dalam konteks itu, dia bilang Zurich selama beberapa tahun terakhir sudah berinvestasi untuk data terkait pengelolaan klaim atau jenis penyakit tertentu.

Lebih lanjut, Musi menyebut salah satu kenaikan klaim juga didorong oleh penyakit kronis. Namun, dia bilang sebenarnya penyakit yang sering terjadi bisa dicegah lebih awal, seperti Influenza. Meski biaya klaimnya secara kasus individual tidak terlalu tinggi, tetapi sering terjadi. 

"Dengan demikian, kami memiliki program physical well-being baik vaksinasi flu mungkin sekali setahun. Berdasarkan pengalaman dan data yang dilihat, frekuensi dari penyakit flu untuk grup yang divaksinasi itu menurun. Jadi, itu salah satu contoh menggabungkan data, teknologi, dan insight yang didapatkan dari data ke aspek prevention atau aktivitas prevention yang nyata," ujarnya.

Untuk kontribusi premi dari asuransi kesehatan, Musi menyampaikan preminya sudah hampir Rp 1 triliun per September 2026. Adapun asuransi kesehatan menjadi tiga terbesar lini penopang kinerja perusahaan sejauh ini. 

Baca Juga: Perkuat Sinergi, Bank Mandiri Taspen Jalin Kerja Sama dengan KSPPS Sena Putra Mandiri

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News