KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk (ZYRX) masih mempertahankan target bisnis yang dibidik sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, perusahaan menargetkan angka pendapatan sebesar Rp 450 miliar pada tahun ini. Sementara untuk
bottom line, diproyeksikan tetap bertumbuh positif di tengah tantangan kenaikan harga komopenen.
Sekretaris Perusahaan Zyrexindo Mandiri Buana, Evan Jordan mengatakan dengan mempertimbangkan realisasi semester pertama dan perkembangan bisnis hingga saat ini, perusahaan masih fokus mengejar target yang dibidik di awal tahun ini.
Baca Juga: Tren Elektrifikasi Tambang Menguat, SANY Indonesia Kantongi 500 Pesanan Alat Berat Beberapa strategi yang disiapkan untuk mencapai target tersebut di antarnaya peningkatan kontribusi segmen B2C dan B2B, pengembangan produk, serta efisiensi operasional. “Namun, pencapaian target tetap akan bergantung pada perkembangan permintaan pasar, realisasi proyek, nilai tukar, serta harga komponen hingga akhir tahun,” ujar Evan, kepada
Kontan.co.id, Jumat (18/9).
Sebagai informasi, sepanjang semester I-2026, ZYRX membukukan pendapatan sebesar Rp 116 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 114 miliar. Namun demikian, peningkatan pendapatan belum sepenuhnya diikuti peningkatan profitabilitas. Di mana, perusahaan harus mencetak kerugian sebesar Rp 24 miliar pada periode ini. Faktor utama yang membuat profitabilitas perusahaan tertekan di periode ini, di antaranya kenaikan harga RAM dan NAND, serta beban keuangan. Untuk mempertahankan kinerja di sisa tahun ini, ZYRX menyiapkan sejumlah strategi antara lain memperkuat pasar consumer dan B2B, meningkatkan kontribusi produk dengan product mix yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar, dan memperkuat distribusi dan channel penjualan. Selain itu, efisiensi operasional juga tetap diupayakan untuk menghadapi kenaikan biaya komponen.
Di sisi lain, perusahaan juga
terus melakukan pengembangan dan penyegaran produk untuk memenuhi kebutuhan berbagai segmen pasar, khususnya consumer dan B2B. “Selain ekspansi produk hardware, Perseroan juga mulai memperluas layanan ke IT solution, sehingga sumber pertumbuhan tidak hanya berasal dari penjualan perangkat keras,” terangnya. Dari sisi belanja modal atau
capital expenditure (Capex), perusahaan
mengalokasikan dana sebesar Rp 85 miliar pada tahun ini. Hingga semester pertama, realisasinya telah mencapai
sebesar Rp 74 miliar.
Capex tersebut terutama digunakan untuk peningkatan kapasitas produksi, peralatan produksi, renovasi fasilitas pendukung, gudang (warehouse) pengembangan sistem IT, serta kebutuhan operasional dan rencana pengembangan bisnis Perseroan lainnya. Ia mengatakan, perusahaan tetap menerapkan prinsip selektif dalam belanja modal dengan mempertimbangkan kebutuhan kapasitas dan potensi kontribusinya terhadap pertumbuhan bisnis.
Baca Juga: Harga Komponen Naik, Zyrexindo (ZYRX) Merugi Rp 24 Miliar di Semester I-2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News