Aksi demonstrasi meletus di seluruh negeri, Ekuador deklarasikan kondisi darurat



KONTAN.CO.ID - QUITO. Presiden Ekuador Lenin Moreno mendeklarasikan kondisi darurat pada hari Kamis (3/10), ketika aksi unjuk rasa meletus di seluruh penjuru negeri seiring berakhir subsidi bahan bakar yang sudah berlangsung selama beberapa dekade. Penghapusan subsidi itu merupakan bagian dari paket reformasi fiskal pemerintah senilai US$ 2 miliar.

"Cabut paket reformasi!" teriak pengunjuk rasa, yang merujuk pada langkah reformasi yang diberlakukan minggu ini.

Melansir Reuters, dengan diberlakukannya penghapusan subsidi BBM pada Kamis, sopir taksi, bus dan truk memblokir jalan-jalan di ibukota dataran tinggi Quito dan wilayah Guayaquil di pantai Pasifik. Sementara, stasiun bus ditutup. Masyarakat umum, pelajar dan serikat pekerja bergabung dalam aksi ini. Mereka memblokir jalan dengan batu dan membakar ban.


Baca Juga: Angelina Jolie minta dukungan internasional untuk anak-anak Venezuela

Di Quito, kondisi tampak memanas. Sejumlah demonstran bertopeng melemparkan batu ke arah polisi anti huru hara yang merespons dengan gas air mata dan mengerahkan kendaraan lapis baja.

“Aksi ini akan terus kami lakukan sampai pemerintah membatalkan keputusan tentang subsidi. Kami akan melumpuhkan negara ini," kata pemimpin transportasi bus Abel Gomez seperti yang dikutip Reuters.

Para pejabat Ekuador mengatakan, penghapusan subsidi bahan bakar diperlukan untuk mengangkat perekonomian dan menghentikan penyelundupan.

Moreno, yang memenangkan pemilu pada tahun 2017 menggantikan Rafael Correa, mengatakan kepada wartawan bahwa subsidi "jahat" yang berlaku selama 40 tahun, telah mendistorsi ekonomi dan aksi protes tidak akan diizinkan melumpuhkan Ekuador.

Baca Juga: Nestle dan Fonterra memompa penjualan susu di Amerika

"Untuk memastikan keamanan warga negara dan menghindari kekacauan, saya telah mendeklarasikan negara dalam keadaan darurat nasional," kata presiden. "Saya memiliki keberanian untuk membuat keputusan yang tepat untuk bangsa ini."

Penahanan pelaku unjuk rasa

Beberapa kelompok pengunjuk rasa yang berusaha mencapai istana presiden di pusat kota Quito bentrok dengan pihak kepolisian. Di Guayaquil, beberapa toko dijarah.

Menteri Dalam Negeri Maria Romo mengatakan 19 orang ditangkap karena menghalangi jalan dan kejahatan lainnya.

"Kurangnya transportasi berdampak pada kita semua. Akan tetapi kenaikan harga bensin juga akan berdampak sama," kata Cesar Lopez, 39 tahun kepada Reuters.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie