Aksi Profit Taking Sebabkan Harga Emas Dunia Terkoreksi



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Harga emas dunia sempat melonjak tajam dimana eskalasi tensi geopolitik di Eropa Timur mendorong emas terbang tinggi dan membuat para investor mulai melakukan aksi profit taking sehingga harga emas kembali terkoreksi tajam. 

Terlebih, bank sentral di seluruh dunia sedang berusaha untuk mendinginkan harga yang melonjak tajam akibat inflasi. 

Minggu (12/6) pukul 10.20 WIB, harga emas spot naik 1,28% ke US$ 1.871,60 per ons troi. Sementara, harga emas berjangka untuk kontrak pengiriman Agustus 2022 naik 1,23% menjadi US$ 1.875,5 per ons troi.


Analis DCFX Futures Lukman Leong mengatakan pergerakan harga emas dalam tahun ini telah mencapai rekor harga di atas US$ 2000, kemudian harga emas kembali terkoreksi tajam oleh aksi profit taking dan ekspektasi kenaikan suku bunga dari the Fed

Baca Juga: Harga Emas Spot Turun ke US$1.847 karena Dolar Rebound, Data Inflasi AS Jadi Sorotan

"Namun perang di Ukraina sempat membawa harga emas kembali melambung mendekati US$ 2000, namun harga emas kembali turun setelah siklus kenaikan suku bunga The Fed dimulai," ucap Lukman kepada Kontan.co.id, Jumat (10/6). 

Lukman mengatakan harga emas pada umumnya merespons positif pada jangka inflasi, namun dengan kenaikan suku bunga The Fed yang agresif kembali menekan harga emas.

Prospek harga emas ke depan sangat ditentukan oleh keberhasilan kebijakan moneter The Fed apakah berhasil menurunkan inflasi atau tidak, dan apakah perekonomian akan terjerumus ke resesi.

"Saya melihat peluang kegagalan menurunkan inflasi ataupun resesi cukup terbuka dan akan mendukung harga emas," ujar Lukman. 

Baca Juga: Yuk Intip Rekomendasi Phillip Sekuritas Hari Ini (6/6), IHSG Dibuka Koreksi

Menurut Lukman emas berpeluang terkoreksi kembali, sementara pelaku pasar masih berkonsolidasi di tengah anjloknya saham-saham di bursa. 

Harga emas akan naik kemungkinan di kuartal IV-2022, dimana Lukman melihat akan ada pembelian emas dari investor/pelaku pasar, sebagai tindakan diversifikasi portfolio menjauh dari asset beresiko. 

Editor: Noverius Laoli