Alkindo Naratama (ALDO) yakin catat pertumbuhan penjualan double digit di kuartal I



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen kertas dan bahan kimia, PT Alkindo Naratama Tbk optimis bisa membukukan kinerja yang prima di tengah pandemi corona (covid-19). Tidak tanggung-tanggung, emiten yang memiliki kode saham ALDO ini memperkirakan bisa mencatatkan pertumbuhan penjualan double digit pada kuartal I dibandingkan periode sama tahun lalu.

“Kalau dilihat-lihat kira-kira (pertumbuhan)  di atas 10% kami masih bisa dapat,” ujar Direktur Utama Alkindo Naratama  Herwanto Sutanto kepada Kontan.co.id, Selasa (24/3).

Baca Juga: Lockdown Malaysia mulai pengaruhi produksi Mark Dynamics Indonesia (MARK)


Mengintip laporan keuangan interim kuartal I tahun 2019 lalu, penjualan bersih perseroan tercatat sebesar Rp 300,92 miliar di tiga bulan pertama tahun 2019. Dengan asumsi pertumbuhan minimal sebesar 10%, maka perseroan membidik penjualan bersih di atas Rp 331,01 miliar.

Optimisme ini bukannya tanpa alasan. Menurut catatan Herwanto, segmen penjualan kertas perseroan masih menunjukkan tren pertumbuhan sejauh ini. Hal ini dipicu oleh konsumsi makanan dan minuman (mamin) ataupun barang konsumer lainnya yang masih cenderung terus bertumbuh di tengah pandemi corona.

Sedikit informasi, segmen kertas perseroan terdiri atas dua unit bisnis/lini, yakni segmen kertas cokelat (kertas) yang dioperasikan melalui anak usaha, yakni PT Eco Paper Indonesia (EPI) dan juga segmen kertas konversi yang dioperasikan oleh Alkindo Naratama sendiri. 

Sebagian besar penjualan segmen kertas perseroan diserap oleh industri kemasan yang menyasar sektor makanan minuman (mamin) dan barang konsumer  lainnya. Dalam hal ini, kertas cokelat digunakan dalam pembuatan kemasan kaku alias rigid packaging seperti misalnya kardus. Sementara, kertas konversi yang diproduksi dalam bentuk papercore alias gulungan kertas  digunakan untuk menggulung kemasan fleksibel (flexible packaging). 

Baca Juga: Dari industri makanan-minuman sampai mainan resah dengan pelemahan rupiah

Selain didorong oleh kenaikan konsumsi mamin, optimisme perseroan juga didasari oleh  adanya tambahan kontribusi penjualan pasca akuisisi EPI. Pasalnya, proses akuisisi yang dilakukan oleh perseroan terhadap EPI baru dilakukan menjelang akhir Februari 2019 lalu, sehingga penjualan dari EPI pada bulan Januari dan Februari 2019 belum masuk ke dalam penjualan konsolidasi perusahaan.

Editor: Tendi Mahadi