Analis Binaartha rekomendasikan beli saham MEDC, ini alasannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) baru saja mendapatkan kenaikan peringkat dari dua lembaga pemeringkat internasional yaitu Moody’s dan S&P.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji menilai, ke depan Medco masih memiliki prospek yang positif. Terutama pada tahun ini, Medco menargetkan produksi minyak meningkat sebesar 110.000 barel setara minyak ber hari (boepd). Sedangkan per semester I-2019 produksi Medco sebesar 96.000 boepd.

“Kenaikan produksi tersebut akan terwujud setelah MEDC mengakuisisi Ophir Energy, sehingga akan memberikan katalis positif bagi kinerja Medco ke depan. Apalagi tren harga minyak ke depan akan terus positif, menyusul penerapan stabilisasi harga minyak OPEC, serta meningkatnya gejolak politik dan keamanan yang terjadi di kawasan Timur Tengah,” jelas Nafan dalam riset yang diterima Kontan, Minggu (12/1).


Baca Juga: Moody's naikkan peringkat obligasi global anak usaha Medco Energi (MEDC)

Di sisi lain, proyek pengembangan Blok Meliwis di Jawa Timur yang ditargetkan mulai berproduksi pada Q2-2020, serta proyek pengembangan fase 4B konsesi Bualuang di Thailand yang masih konsisten dalam program pengeboran hingga tahun 2020, akan berkontribusi positif dalam mendorong kinerja emiten.

MEDC juga berencana melakukan aksi korporasi dengan melepas dua anak usahanya, yakni PT Medco Power Indonesia dan PT Amman Mineral Nisa Tenggara untuk menggelar initial public offering (IPO) guna mencari dana segar sebesar US$ 600 juta.

Selain melakukan ekspansi, MEDC juga dikabarkan akan melakukan divestasi usaha. Emiten berencana melepas tujuh blok migas yang pernah dikelola Ophir karena dianggap high risk sehingga dinilai tidak ekonomis. Ke tujuh blok tersebut di antaranya di Guinea, Mexico, Bangladesh, 2 blok di Vietnam, Aru, dan Papua Barat.

Lebih lanjut, mengutip Bloomberg, riset Binaartha Sekuritas menjabarkan pendapatan MEDC pada 2019 diproyeksikan mencapai US$ 1,39 miliar dan diperkirakan naik pada 2020 menjadi US$ 1,53 miliar.

Editor: Yudho Winarto