KONTAN.CO.ID - Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) menggandakan ukuran pembelian kembali atau
buyback obligasi jangka panjang untuk meredam lonjakan imbal hasil (yield) Treasury yang telah mengguncang pasar keuangan global. Melansir
Reuters, kebijakan tersebut diumumkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Rabu (19/8/2026), setelah aksi jual besar-besaran di pasar obligasi mendorong yield Treasury 30 tahun ke level tertinggi sejak 2007.
Baca Juga: Dolar Tertekan Dekati Level Terendah Tiga Bulan Kamis (20/8), Ini Pemicunya Lonjakan yield terjadi di tengah kekhawatiran mengenai potensi eskalasi perang AS-Israel dengan Iran serta memburuknya kondisi fiskal AS. Total utang pemerintah AS yang beredar bahkan telah menembus US$ 40 triliun pada Rabu. Kenaikan yield Treasury meningkatkan biaya pinjaman, baik bagi pemerintah, rumah tangga maupun perusahaan, sekaligus berpotensi menekan pasar keuangan secara lebih luas. Departemen Keuangan AS akan meningkatkan nilai
buyback surat utang Treasury tenor 10 tahun hingga 30 tahun menjadi sedikitnya US$ 4 miliar per operasi. Sebelumnya, nilai buyback yang direncanakan hanya US$ 2 miliar. Kebijakan tersebut akan berlaku mulai 9 September hingga 4 November 2026, mencakup sektor Treasury tenor 10-20 tahun dan 20-30 tahun. "Menurut saya, langkah ini akan memberikan dampak besar pada tenor panjang," ujar Dan Gottlander, Global Head of USD and CAD Swaps Trading di Citi. Namun, menurut dia, kebijakan tersebut juga berpotensi mendorong pemerintah AS menerbitkan lebih banyak surat utang jangka pendek. "Ini jelas tidak mengubah defisit. Jika Anda membeli kembali obligasi tenor panjang, Anda tetap perlu menerbitkan surat utang," katanya.
Baca Juga: Misi Penyelamatan Teleskop NASA Gagal, Swift Akan Jatuh ke Atmosfer Yield Treasury Turun Pengumuman Departemen Keuangan AS langsung meredakan tekanan di pasar obligasi. Yield Treasury 30 tahun yang sempat mencapai 5,34%, level tertinggi dalam 19 tahun pada Selasa (18/8), turun menjadi sekitar 5,184%. Sementara itu, yield Treasury 10 tahun turun sekitar 6 basis poin menjadi 4,66%. Departemen Keuangan AS mengatakan, peningkatan ukuran
buyback bertujuan memberikan dukungan likuiditas yang lebih besar pada surat utang tenor panjang. Langkah tersebut dilakukan karena permintaan investor terhadap transaksi
buyback obligasi tenor panjang dinilai cukup kuat. Presiden AS Donald Trump juga berupaya meredakan kekhawatiran terhadap gejolak pasar obligasi. Ketika ditanya apakah masyarakat AS perlu mengkhawatirkan volatilitas pasar obligasi, Trump menjawab, "Tidak, saya rasa tidak."
Analis DZ Bank Rene Albrecht menilai, pemerintah AS khawatir terhadap dampak yield Treasury yang menembus level 5% atau lebih. "Saya pikir mereka khawatir terhadap dampak yield 5% atau lebih pada tenor panjang, bukan hanya karena meningkatkan biaya bunga pemerintah, tetapi juga sektor swasta," ujar Albrecht. Menurutnya, tingginya yield dapat meningkatkan biaya pinjaman korporasi dan menjaga suku bunga hipotek tetap tinggi.
Baca Juga: Utang AS Naik Dua Kali Lipat Pada Pemerintahan Trump dan Biden, Lewati US$ 40 Triliun