AS Ingin Ikut Menentukan Pemimpin Iran: Siapa yang Didukung Trump?



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa negaranya berhak ikut terlibat dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya, di tengah perang yang semakin memanas pada Kamis (5/3/2026). Serangan udara yang dilakukan jet tempur AS dan Israel menghantam berbagai wilayah di Iran, sementara sejumlah kota di kawasan Teluk kembali dibombardir.

Dalam wawancara dengan Reuters, Trump mengatakan bahwa Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, bukanlah kandidat kuat untuk menggantikan posisi ayahnya. Mojtaba dikenal sebagai tokoh garis keras yang sebelumnya disebut-sebut sebagai penerus potensial.

“Kami ingin terlibat dalam proses memilih orang yang akan memimpin Iran ke depan,” kata Trump melalui sambungan telepon.


Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak ingin konflik seperti ini terus berulang setiap beberapa tahun. Menurutnya, Iran membutuhkan pemimpin yang benar-benar mampu membawa kebaikan bagi rakyat dan negaranya.

Trump juga mendorong kelompok Kurdi Iran untuk melancarkan serangan terhadap pemerintah Teheran. Ia menyatakan mendukung langkah tersebut, meski tidak menjelaskan apakah AS akan memberikan perlindungan udara bagi operasi militer mereka.

Baca Juga: Ekonomi China: Target Pertumbuhan Terendah Sejak 1990-an, Apa Artinya?

Pemerintahan Trump diketahui telah menjalin kontak dengan kelompok Kurdi Iran sejak serangan udara AS dan Israel dimulai.

Pada hari yang sama, dua serangan drone dilaporkan menargetkan kamp oposisi Iran di wilayah Kurdistan Irak, serta sebuah ladang minyak yang dioperasikan perusahaan asal Amerika Serikat.

Warga Diminta Mengungsi

Sementara itu, militer Israel memperingatkan warga untuk segera meninggalkan sejumlah wilayah, termasuk bagian timur Teheran. Media Iran melaporkan adanya beberapa ledakan di berbagai titik ibu kota.

Serangan udara juga menewaskan 17 orang di sebuah rumah tamu di jalan barat laut Teheran, menurut laporan televisi pemerintah Iran.

“Keadaannya hari ini lebih buruk dari kemarin. Mereka menyerang Teheran utara. Kami tidak punya tempat untuk pergi. Rasanya seperti berada di zona perang. Tolong kami,” ujar Mohammadreza, warga Teheran berusia 36 tahun, melalui telepon dengan suara bergetar di tengah suara ledakan.

Konflik Meluas ke Banyak Negara

Memasuki hari keenam perang, Iran meluncurkan serangkaian serangan ke Israel, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Di Bahrain, petugas pemadam kebakaran berhasil memadamkan api di sebuah kilang minyak setelah terkena serangan rudal.

Azerbaijan juga ikut terseret dalam konflik setelah menuduh Iran menembakkan drone ke wilayahnya. Pemerintah Azerbaijan kemudian menutup wilayah udara bagian selatan selama 12 jam.

Iran membantah telah menyerang negara tetangganya tersebut. Namun insiden ini menunjukkan betapa cepatnya konflik meluas sejak serangan udara mendadak AS dan Israel yang menewaskan Ali Khamenei pada Sabtu lalu.

Baca Juga: Trump dan Bondi Digugat atas Persetujuan Penjualan Aset TikTok di AS

Sejumlah negara lain ikut terdampak. Kota-kota di kawasan Teluk yang berada dalam jangkauan drone dan rudal Iran berada dalam status siaga. Siprus dan Turki juga dilaporkan menjadi target serangan.

Negara-negara Eropa bahkan berencana mengirim kapal perang ke kawasan Mediterania Timur. Sementara itu, ketegangan juga terjadi hingga perairan dekat Sri Lanka, setelah kapal selam AS menenggelamkan kapal perang Iran pada Selasa lalu dan menewaskan sekitar 80 awak kapal.