Bakal diminati pasar, holding panas bumi BUMN dinilai potensial masuk bursa saham



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina (Persero) berencana untuk melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) pada Semester II tahun ini. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dikabarkan menjadi salah satu entitas usaha Pertamina yang bakal melantai di bursa.

Di sisi lain, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana untuk membentuk holding panas bumi. Terdiri dari tiga perusahaan plat merah di bidang pengelolaan geothermal, PGE kabarnya bakal menjadi induk usaha dari holding tersebut.

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji menilai, pembentukan holding BUMN panas bumi menjadi katalis yang membawa sentimen positif di tengah rencana IPO PGE. Pembentukan holding bisa semakin meyakinkan pasar dalam keseriusan pemerintah memanfaatkan potensi panas bumi.


Apalagi, Indonesia memiliki potensi berlimpah, yang mana saat ini sebagai produsen energi panas bumi terbesar kedua di dunia. "(Pembentukan) holding menarik, saya pikir prospeknya cerah. Dengan holding kita lebih bisa mengolah potensi sumber daya alam tersebut," kata Nafan, kepada Kontan.co.id, Senin (22/2).

Pembentukan holding panas bumi akan memperkuat kemampuan perusahaan untuk menjalankan ekspansi. Lalu dengan ekspansi, kinerja fundamental perusahaan akan membaik. Pasa pun bakal semakin tertarik, terlebih dengan prestige Pertamina dan perusahaan negara dibaliknya.

Namun, Nafan memberikan catatan, penetapan harga IPO nantinya harus menarik. Dia berharap harga per lembar saham tidak terlalu mahal, sehingga dapat lebih menarik minat investor. "Mudah-mudahan penetapan harga IPO menarik, sehingga potensi oversubscribed. Kalau sudah IPO pergerakan harga sahamnya menanjak. Setelah menguat jadi investor bisa diuntungkan," ujar Nafan.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim. Menurutnya, pembentukan holding bisa membuat BUMN bersaing secara kompetitif dengan emiten-emiten di sektor energi. Khususnya dengan emiten yang memiliki portofolio bisnis energi terbarukan panas bumi.

Harga saham PGE atau holding BUMN panas bumi, kata Ibrahim, nantinya bisa merujuk pada emiten-emiten tersebut sebagai perbandingannya. "Pasar akan merespon positif, apalagi holding BUMN. Saya kira itu menjanjikan. (Harga saham emiten yang memiliki bisnis energi terbarukan) bisa menjadi acuan," kata Ibrahim.

IPO di tengah masa pemulihan ekonomi pandemi covid-19 dinilai bisa menggairahkan pasar. Ibrahim menilai, Pertamina atau BUMN panas bumi bisa mendapatkan dana segar dari IPO untuk mendanai rencana ekspansinya, sehingga tidak perlu melakukan pinjaman ke pihak ketiga.

"Listing di bursa juga tujuannya supaya ada transparansi pengelolaan. Kalau sahamnya dikuasai masyarakat, itu lebih akuntabel dan transparan," ungkap Ibrahim.

Perusahaan Panas Bumi Terbesar di Dunia

Wakil Menteri I BUMN Pahala Mansury mengkonfirmasi pembentukan holding panas bumi BUMN. Holding itu akan diisi oleh tiga perusahaan, yakni PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), PT Geo Dipa Energi (Persero), dan PT PLN Geothermal.

"Kami memang memiliki rencana untuk menggabungkan aset geothermal dari ketiganya. Institusi gabungan nanti akan dimiliki bersama Pertamina, PLN dan pemerintah sehingga bisa diperoleh sinergi yang optimal," kata Pahala saat dihubungi Kontan.co.id, Jum'at (19/2).

Dengan begitu, akan ada integrasi dari keunggulan pengembangan (drilling), transmisi energi ke pengguna, maupun dari sisi pendanaan. Lebih lanjut, Pahala mengklaim bahwa holding ini akan menjadi perusahaan dengan kepemilikan kapasitas PLTP terbesar di dunia.

"Gabungan perusahaan geothermal akan menjadi terbesar di dunia dalam installed capacity pembangkit geothermal. Ini merupakan inisiatif pengembangan baru dan terbarukan," sambung Pahala.

Editor: Handoyo .