Bank Dunia pangkas laju ekonomi Asia Timur dan Pasifik, Indonesia stabil 5,2%-5,3%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. World Bank (Bank Dunia) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik dari 6,3% di tahun 2018 menjadi 6% pada 2019 dan 2020. Hal ini mencerminkan tantangan global serta perlambatan pertumbuhan China yang sengaja dilakukan melalui kebijakan negara tersebut.

Berlanjutnya perlambatan China akan menyebabkan pertumbuhan 6,2% pada 2019 dan 2020, turun dari 6,6% pada 2018. Sedangkan pertumbuhan di Indonesia dan Malaysia diproyeksikan tidak akan berubah pada tahun 2019. 

Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2019 mencapai 5,2% sedangkan tahun 2020 mencapai 5,3%.


Sementara tingkat pertumbuhan di Thailand dan Vietnam diperkirakan akan sedikit lebih rendah pada 2019 masing-masing 3,8% dan 6,6%. Pada tahun sebelumnya pertumbuhan ekonomi Thailand tercatat 4,1% sedangkan Vietnam 7,1%.

Di Filipina, penundaan pengesahan anggaran pemerintah nasional untuk tahun 2019 diperkirakan akan membebani pertumbuhan PDB pada 2019, tetapi pertumbuhan diperkirakan akan meningkat pada 2020

Bank Dunia menambahkan saat ini ketidakpastian kebijakan perdagangan sedikit berkurang sehingga pertumbuhan perdagangan global akan terus membaik meskipun masih ada risiko perlambatan ekspor. Namun dengan permintaan domestik yang tetap kuat di sebagian besar kawasan maka dapat mengimbangi perlambatan ekspor.

"Perlu diingat kawasan ini terus menghadapi tekanan yang meningkat sejak 2018 dan masih bisa berdampak buruk. Ketidakpastian akibat beberapa faktor termasuk perlambatan lebih lanjut di negara maju, kemungkinan perlambatan China yang lebih cepat dari perkiraan dan ketegangan perdagangan belum terselesaikan," jelas Chief Economist for The East Asia and Pacific Bank Dunia Andrew Mason melalui rilis yang dikutip Kontan.co.id, Rabu (24/4).

Untuk menghadapi risiko yang terus-menerus ini, dalam jangka pendek Bank Dunia menyarankan perlunya penguatan penyangga, termasuk membangun kembali cadangan devisa yang diambil untuk mengelola gejolak nilai tukar pada tahun 2018. Kebijakan moneter juga perlu disesuaikan agar lebih netral karena risiko arus keluar modal telah berkurang.

Bank Dunia dalam laporannya menyoroti pentingnya reformasi struktural yang berkelanjutan dalam jangka menengah untuk meningkatkan produktivitas, mendorong daya saing, menciptakan peluang yang lebih baik untuk sektor swasta, dan memperkuat modal manusia.

Meningkatnya beberapa risiko juga membuat Bank Dunia menyoroti perlunya investasi berkelanjutan pada program bantuan sosial dan asuransi untuk melindungi masyarakat yang rentan.

Saat ini, negara-negara berkembang Asia Timur dan Pasifik memiliki cakupan bantuan sosial terendah bagi 20% penduduk termiskin dibandingkan wilayah berkembang lainnya.

Laporan ini juga menekankan pentingnya negara di Kepulauan Pasifik meningkatkan manajemen utang, kualitas belanja, dan membangun ruang fiskal. Sementara utang publik mereka relatif rendah, faktor-faktor struktural menempatkan negara-negara di Kepulauan Pasifik pada risiko tinggi tekanan utang.

Faktor struktural tersebut antara lain prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang sedang, kerentanan tinggi terhadap bencana alam, dan biaya tinggi untuk layanan publik dan infrastruktur.

Editor: Yudho Winarto