Bankir pastikan di akhir tahun perebutan DPK bakal semakin sengit



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki periode kuartal IV 2019 pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan semakin layu. Data Bank Indonesia (BI) mencatat per Oktober 2019 total DPK perbankan hanya tumbuh 5,9% secara year on year (yoy) menjadi Rp 5.704,1 triliun.

Menurun dari pertumbuhan di bulan sebelumnya yang mencapai 7,1% yoy. Pun, pertumbuhan DPK di bulan Oktober 2019 ini juga merupakan yang terendah dalam beberapa bulan terakhir.

Hal ini tak lain menandakan persaingan perebutan DPK perbankan masih cukup sengit. Namun di sisi lain, fakta tersebut juga bisa menjadi hal positif lantaran biaya dana alias cost of fund (CoF) perbankan artinya tengah melandai.


Baca Juga: Bank DKI targetkan kredit bisa tumbuh 11% di tahun depan

Beberapa bankir yang dihubungi Kontan.co.id mengamini bahwa di akhir tahun kecenderungannya perbankan semakin ganas memperebutkan DPK. Tak lain untuk menopang kebutuhan ekspansi di pengujung tahun maupun awal tahun depan.

PT Bank BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) misalnya yang mengamini bahwa kondisi ini merupakan musiman. Sekretaris Perusahaan Bank BJB Muhammad Asadi Budiman menuturkan, tiap akhir tahun likuiditas memang akan menjadi agak ketat.

"Setiap bank akan berupaya memaksimalkan keseimbangan antara pertumbuhan DPK dengan kreditnya," terangnya, Rabu (18/12).

Namun, Ia menyebut sampai kuartal III 2019 lalu laju DPK Bank BJB masih sesuai target yakni 10%. Meski COF Bank BJB sempat mengalami kenaikan dari 4,9% per September 2018 menjadi 5,4% di September 2019, Budiman memastikan COF bakalan melandai.

Sejalan dengan salah satu strategi likuiditas perseroan yang bakal memperdalam pertumbuhan dana murah (current account and saving account/CASA).

Baca Juga: Bank Syariah Mandiri salurkan pembiayaan Rp 1,5 triliun ke Muhammadiyah

Bank bersandi saham BJBR ini mengatakan untuk akhir kuartal IV 2019 ini pihaknya mematok target COF di kisaran 5%-5,4% di tahun ini. "Untuk tahun 2020 kami targetkan COF bisa terjaga di bawah 5,4%," ujar Budiman.

Sekadar tambahan saja, merujuk laporan keuangan perseroan per November 2019 tercatat DPK tumbuh tipis 3,44% yoy menjadi Rp 94,32 triliun.

Editor: Yudho Winarto