Banyak negara menunda suntikan vaksin Covid-19 dosis kedua, mengapa?



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Sejumlah negara di seluruh dunia telah memilih untuk menunda pemberian dosis kedua vaksin Covid-19. Alasannya, mereka ingin menawarkan perlindungan kepada lebih banyak orang sedini mungkin.

Melansir The Straits Times, memperpanjang interval atau jangka waktu yang lebih lama dari suntikan dosis pertama memang belum diuji dalam uji klinis. Akan tetapi, beberapa ilmuwan mengatakan langkah untuk menunda itu masuk akal, mengingat munculnya beberapa varian virus corona yang sangat mudah menular.

Rekomendasi untuk suntikan dosis kedua cukup bervariasi, mulai dari 21 hari dan hingga 12 minggu.


"Anda akan menyelamatkan jauh, jauh lebih banyak nyawa dengan memberikan dosis vaksin ekstra itu kepada orang-orang yang belum menerima suntikan pertama, membuat mereka terlindungi dari nol hingga 85%, daripada menggunakan kapasitas yang sama (untuk) memberikan suntikan kedua kepada orang-orang dan meningkatkannya dari 85 menjadi 95 (persen kemanjuran)," papar Dr Robert Wachter, dari Departemen Kedokteran Universitas California, mengatakan kepada majalah dua mingguan Science News.

Baca Juga: Pemerintah optimistis dapat lakukan vaksinasi 1 juta dosis per hari

Pada bulan Januari, Inggris termasuk yang pertama melakukan apa yang kemudian dianggap sebagai langkah yang tidak biasa untuk menunda dosis kedua vaksin hingga 12 minggu untuk memprioritaskan suntikan pertama kepada sebanyak mungkin orang. 

Negara ini membagikan tiga jenis vaksin - Pfizer, Moderna dan AstraZeneca yang diproduksi di dalam negeri.

Langkah tersebut mengikuti lonjakan kasus pada Desember tahun lalu dan pada Januari tahun ini, yang sebagian besar didorong oleh varian B117.

Baca Juga: Dukung pemulihan ekonomi, Unilever siap vaksinasi 10.000 karyawan dan keluarganya

"Kebijakan itu mengakibatkan Inggris menjadi salah satu negara dengan tingkat serapan vaksin tertinggi di dunia", kata Menteri Vaksin Inggris Nadhim Zahawi.

Data yang dihimpun The Straits Times menunjukkan, hampir 36 juta orang telah mendapatkan dosis pertama mereka di Inggris, dan 20 juta di antara mereka telah mendapatkan dosis kedua.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie