Beban bunga bank naik tapi pendapatan turun, bagaimana strategi bank?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam kondisi pandemi virus corona (Covid-19), tidak dapat dipungkiri kalau pertumbuhan kredit kian melambat. Bila hal tersebut terjadi, artinya pendapatan bunga perbankan bakal ikut menciut.

Meski begitu, perbankan punya masalah lain yakni tingkat beban bunga yang juga tetap akan tumbuh tinggi. 

Menurut Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk Hery Gunardi, hal tersebut memang tidak dapat dipungkiri dalam kondisi saat ini. Tapi, bukan berarti bank tidak punya cara untuk lolos dari kondisi ini.


Baca Juga: BRI akan jaga NIM di kisaran 6,8%-6,9% pada tahun ini,berikut strateginya

Hery mengatakan, jika penyaluran kredit melambat, dan tingkat dana pihak ketiga (DPK) cenderung meningkat, maka perbankan tentunya akan memperbaiki struktur pendanaan (funding). Nah, cara termudah tak lain dengan menjaga rasio dana murah (current account and saving account/CASA) sebaik mungkin. 

"Intinya, bank tetap akan mengatur aset dan liabilitas secara optimal," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (24/4).

Saat ini tren bunga dana atau deposito pun terus mengalami penurunan. Seiring dengan terkoreksinya tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7 day reverse repo rate (7DRR).

Catatan saja, sepanjang tahun 2020 ini, BI telah menurunkan bunga acuan sebanyak 50 basis poin (bps) menjadi 4,5%. Itu artinya, sejak pertengahan 2019 hingga saat ini BI sudah menurunkan BI 7DRR sebanyak 150 bps.

Berkat kebijakan ini, menurut catatan bank sentral rata-rata tertimbang suku bunga deposito perbankan sejak akhir Juni 2019 sampai Februari 2020 sudah turun 67 bps menjadi 6,16%.

Bank Mandiri pun mengaku sudah sejak tahun lalu terus menurunkan tingkat bunga deposito. "Arahnya akan ke sana (penurunan bunga). Sudah turun per 1 April 2020, otomatis mengikuti penurunan bunga acuan BI," sambung Hery.

Editor: Herlina Kartika Dewi