Begini beragam ikhtiar Bank Bukopin mencari likuiditas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Selain tengah menggelar aksi penambahan modal melalui via hak memesan efek terlebih dahulu alias rights issue, PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) kini juga tengah berupaya menjaring likuiditas.

Maklum, likuiditas perseroan kini tengah terkuras. Sejak akhir tahun lalu hingga Mei 2020, dana pihak ketiga (DPK) perseroan telah berkurang Rp 15,31 triliun, atau merosot hingga 20,21% (ytd).

Baca Juga: Wajib pakai PIN untuk transaksi, simak sederet tawaran diskon kartu kredit dari BNI


Dalam rapat bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), 22 Juni 2020 lalu Direktur Utama Bank Bukopin Rivan A. Purwantono misalnya melakukan asset sales dengan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah.

“Sebenarnya bukan penjualan aset, tapi kerja sama antar bank bentuknya berupa money market line, dan joint financing,” kata Rivan saat dikonfirmasi Kontan.co.id, Kamis (2/6).

Dalam risalah rapat tersebut yang didapat Kontan.co.id, disebutkan pula penarikan dana besar-besaran oleh nasabah perseroan memang cukup mengganggu likuiditas. 

Meskipun sudah ada dana yang ditempatkan oleh pemegang sahamnya yaitu KB Kookmin Bank senilai US$ 200 juta, kalkulasi Rivan likuiditas tetap mengkhawatirkan.

Baca Juga: Bank Muamalat: Upaya penambahan modal masih berproses di OJK

Dari simulasi yang dilakukan, pada 24 Juni 2020, proyeksi saldo giro perseroan di Bank Indonesia hanya tersisa Rp 132 miliar. Sementara pada hari berikutnya ada kewajiban repo Rp 236 miliar, dan prefund debit Rp 26 miliar.

Editor: Tendi Mahadi