Begini dampak virus corona terhadap pergerakan mata uang Asia



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Mata uang Asia masih lanjut penurunan pada hari Jumat (31/1/2020). Kondisi ini dipicu oleh optimisme Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atas upaya China dalam mengatasi masalah virus baru yang menyebar dengan cepat sehingga meredam kekhawatiran atas lonjakan infeksi.

Melansir Reuters, pada Kamis malam WHO mengatakan bahwa wabah virus corona  adalah kondisi darurat global. Meski demikian, WHO tetap menentang pembatasan perjalanan dan mengatakan tindakan China sejauh ini akan berhasil mengendalikan gelombang penyebarannya.

Meskipun ada peningkatan kematian dan kasus baru, nada meyakinkan WHO sudah cukup untuk menghentikan aksi jual investor selama dua minggu terakhir yang pada akhirnya memukul saham, mata uang, sekaligus komoditas yang terpapar dengan China.


Asal tahu saja, data Reuters menunjukkan, korban tewas di Tiongkok kini telah mencapai 213 orang dan jumlah kasus terinfeksi adalah 9.692, naik dari posisi 7.711 sehari yang lalu. Selain itu, virus ini juga telah menyebar ke 18 negara. AS telah memperingatkan warganya agar tidak mengunjungi China.

Baca Juga: Hindari corona, pekerja dari Wuhan dilarang kembali bekerja di proyek KA Malaysia

Berikut pergerakan sejumlah mata uang Asia siang ini:

Dollar Selandia Baru melemah 0,1% dan menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir di posisi US$ 0,6479. Dollar Australia berada di level US$ 0,6720, tepat di atas level terendah dalam empat bulan terakhir.

Keduanya telah mengalami pelemahan lebih dari 1,5% pada minggu ini. Bahkan aussie telah anjlok 4,3% sepanjang Januari, yang menjadikan bulan ini sebagai bulan dengan performa terburuk sejak Mei 2016.

Baca Juga: WHO anggap China bisa membalikkan keadaan, harga emas pun tertekan

“Aussie dan kiwi adalah apa yang saya sebut sebagai anak laki-laki yang suka mencambuk, jika Anda suka, karena menyatakan keprihatinan tentang penyebaran virus dan potensi dampaknya terhadap ekonomi global,” kata Ray Attrill, Kepala Strategi FX di National Australia Bank kepada Reuters.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie