Begini modus pembobolan uang elektronik di China



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Hanya dalam beberapa tahun, sistem pembayaran elektronik telah menjadi primadona di daratan China. Aplikasi super ini memungkinkan pengguna memanfaatkannya untuk melakukan hampir semua hal, mulai dari membayar pulsa hingga pemesanan tiket. Berkat kemudahan tersebut kini uang elektronik telah menggantikan uang tunai dan kartu kredit dalam lima tahun terakhir. 

Maka tak mengherankan, China menjadi negara tanpa uang tunai. Bayangkan saja, menurut perusahaan riset dan konsultasi, iResearch Consulting Group, menyebut nilai transaksi berbasis elektronik di China mencapai US$ 5,5 triliun atau sekitar setengah dari produk domestik bruto (PDB) negara itu pada 2016.

Baca Juga: Selain Thailand dan Jepang, virus pneumonia juga terdeteksi di Korea Selatan


Menariknya, pasar pembayaran elektronik di China didominasi oleh duopoli, WeChat milik Tencent dan Alipay dari Alibaba, keduanya memiliki pangsa pasar gabungan sekitar 90% dari total transaksi. Bukan tanpa sebab kedua platform pembayaran tersebut digemari penduduk negara tirai bambu ini.

Alasannya, mereka menerapkan metode pembayaran melalui kode QR.  Pelanggan cukup memindai barcode di aplikasi untuk mentransfer uang ke pedagang atau pihak lain sehingga proses transaksi jadi lebih cepat. Alhasil, metode pembayaran ini memberikan kenyamanan, kemudahan dan kecepatan bagi pelanggan. Bukan hanya itu saja, banyak pelanggan juga tergiur oleh tawaran menarik seperti poin reward serta potongan harga (cashback).

Tapi, seberapa amankah pembayaran transaksi secara tunai atau memindai kode QR? Jawabannya, tidak sepenuhnya aman, berbagai kemudahan yang elektronik telah mengekspos celah sistem keamanan uang elektronik. Beberapa tahun terakhir, para peretas mengambil celah untuk membobol data hingga uang pelanggan.

Dilansir dari Caixin Global (20/11/19), Mahkamah Agung China menyatakan, lebih dari separuh kasus penipuan berbasis daring melalui WeChat pada tahun 2018.  Menurut laporan tersebut, para terdakwa menyamar sebagai orang lain ketika melakukan penipuan siber. Pada tahun 2017, kasus penipuan siber menyumbang 7,67% dari semua kasus penipuan, dan pada 2018 proporsinya melonjak menjadi 17,61%.

Baca Juga: China mendesak Kanada membebaskan Eksekutif Huawei Meng Wanzhou

Dalam kasus penipuan siber, para terdakwa kebanyakan menyamar sebagai wanita atau kenalan korban. Hampir 20% dari kasus penipuan online dilakukan setelah mendapatkan data dan informasi pribadi korban. Lebih dari 40% kasus penipuan siber dilakukan oleh dua orang atau berkelompok, modus ini meningkat dari tahun ke tahun, lebih dari seperlima para terdakwa dihukum penjara lebih dari lima tahun.

Modus menjaring korban Dilansir dari What’son Weibo (22/11/18), terdapat beberapa modus pembobolan uang elektronik di Tiongkok pada 2019 mulai dari menginfeksi ponsel cerdas dengan virus, hingga membiarkan orang secara sukarela menyerahkan informasi pribadi mereka. Peretas menemukan cara untuk menipu orang dari segala usia dan semua lapisan masyarakat. Maka itu, kemudahan layanan seperti WeChat dan Alipay hadir bukan tanpa risiko.

Menurut laporan tersebut, selama bertahun-tahun, peretas telah mengembangkan banyak cara untuk menipu orang serta mencuri uang dari WeChat atau Alipay. Dengan lebih dari 800 juta pengguna, WeChat adalah target yang menguntungkan bagi peretas. Misalnya saja, peretas akun berpura-pura menjadi teman atau anggota keluarga, dan meyakinkan orang lain untuk mengirimi mereka uang.

Modus pertama, dengan meretas akun. Para orang tua di China sering menjadi korban peretasan. Caranya, pelaku berpura-pura menjadi anak mereka. Peretas menggunakan akun anak-anak dan mengatakan kepada orang tuanya bahwa mereka perlu dana untuk membayar kursus serta kelas kuliah tambahan di universitas terkenal seperti Tsinghua atau Beijing.

Baca Juga: Hubungan membaik, Shinzo Abe sebut Korea Selatan tetangga paling penting

Setelah sukses mengelabui orang tua, pelaku kembali minta kiriman uang untuk membayar kegiatan kelas tambahan dengan mengirim kontak telepon guru yang bertanggung jawab di kelas. Tak cukup sampai situ. Pelaku terus kembali membuat orang tua membayar kebutuhan lainnya, seperti biaya layanan, biaya pendaftaran, dan yang lebih ekstrem, diminta mengikuti tautan untuk menyelesaikan pembayaran. Tautan tersebut berisikan virus yang memungkinkan peretas mengakses secara penuh akun WeChat korban.

Modus kedua, melalui penipuan suara. Penipuan kali ini sering dilakukan melalui WeChat.  Peretas mengumpulkan pesan suara seseorang dan kemudian berpura-pura menirukan suara orang lain kemudian membuat akun WeChat palsu yang merupakan salinan persis dari akun yang ditiru.

Editor: Tendi Mahadi