BEI Akan Keluarkan 82 Saham HSC dari IHSG, Volatilitas Berpotensi Menurun?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengubah komposisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai Senin (2/11/2026) dengan mengeluarkan 82 saham yang masuk kategori high shareholding concentration (HSC).

Kebijakan ini mengubah cara IHSG mencerminkan pergerakan pasar saham, terutama dengan mengurangi pengaruh saham-saham yang kepemilikannya terkonsentrasi pada segelintir pihak.

Perubahan tersebut dilakukan setelah pasar saham Indonesia mengalami tekanan hebat. Pada 16 Oktober 2026, IHSG anjlok 11,57% ke level 5.185, menjadi penurunan harian terdalam sejak 1998.


Tekanan pasar terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Baca Juga: BEI Evaluasi Saham HSC Tiap Tiga Bulan, Bisa Kembali Masuk Perhitungan IHSG

Hingga penutupan 22 Oktober 2026, IHSG berada di level 5.387,90, turun 37,69% dibandingkan dengan posisi akhir 2025 di 8.646,94.

Direktur Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai, penghapusan saham HSC dari perhitungan IHSG berpotensi mengurangi volatilitas indeks. Namun, perubahan ini tidak serta-merta menghapus kerugian yang sudah dialami investor sepanjang tahun ini.

"Saham HSC tidak lagi menggerakkan IHSG, sehingga volatilitas indeks ke depan berpotensi lebih rendah," ujar Wawan seperti dikutip dari artikelnya yang terbit di Harian KONTAN, Sabtu (24/10/2026).

Saham HSC merupakan saham dengan kepemilikan yang terkonsentrasi pada sejumlah kecil pihak sehingga jumlah saham yang benar-benar beredar di publik relatif terbatas.

Kondisi ini membuat harga saham lebih mudah berfluktuasi dan berpotensi bergerak jauh dari fundamental perusahaan.

Sebelumnya, BEI telah mengeluarkan saham HSC dari indeks LQ45, IDX30, dan IDX80. Mulai 2 November, kebijakan serupa berlaku untuk IHSG sebagai indeks utama pasar saham Indonesia.

Meski demikian, saham-saham tersebut tetap tercatat di bursa dan dapat diperdagangkan seperti biasa.

BEI akan mengevaluasi daftar saham HSC setiap tiga bulan. Saham yang tidak lagi masuk kategori tersebut akan kembali menjadi konstituen indeks. Jadwal evaluasi IHSG juga bergeser ke hari bursa pertama pada Februari, Mei, Agustus, dan November.

Baca Juga: BEI Keluarkan 80 Saham HSC dari IHSG, Ini Saran untuk Investor

Salah satu hal yang perlu diperhatikan investor adalah dampak perubahan komposisi terhadap level indeks pada awal penerapan kebijakan.

Pengeluaran 82 saham HSC tidak otomatis membuat IHSG melonjak atau terkoreksi pada 2 November. BEI akan menyesuaikan pembagi indeks atau divisor agar perubahan komposisi tidak menimbulkan perubahan level indeks secara aritmetis.

Dengan mekanisme tersebut, IHSG pada 2 November akan melanjutkan perhitungan dari penutupan perdagangan 30 Oktober, sebagaimana perdagangan harian biasa.

Perubahan utamanya terletak pada saham-saham yang memengaruhi pergerakan indeks setelah kebijakan berlaku.

Berdasarkan perhitungan Infovesta, saham-saham HSC selama ini turut memperbesar penurunan IHSG sepanjang 2026. Enam saham HSC dengan bobot terbesar saja berkontribusi negatif 10,75% terhadap penurunan IHSG sebesar 37,69% sejak awal tahun.

Jika seluruh saham HSC diperhitungkan, kontribusi negatifnya mendekati 13%. Simulasi Infovesta menunjukkan, tanpa saham-saham tersebut, level IHSG secara ilustratif dapat berada di kisaran 5.800, atau sekitar 400 poin lebih tinggi dibandingkan posisi 22 Oktober.

Namun, angka tersebut merupakan simulasi untuk menggambarkan kontribusi saham HSC terhadap penurunan indeks, bukan level IHSG aktual yang akan terbentuk setelah kebijakan diterapkan.

Kerugian yang sudah terjadi juga tidak otomatis pulih hanya karena perubahan komposisi indeks.

Dampak berikutnya adalah berkurangnya sensitivitas IHSG terhadap pergerakan harga saham HSC.

Baca Juga: Catat! BEI Keluarkan Saham HSC dari Perhitungan IHSG Mulai 2 November

Dalam simulasi Infovesta, jika saham HSC turun 20% sementara saham lain tidak berubah, IHSG dengan komposisi lama akan turun sekitar 198 poin ke level 5.190. Sementara itu, IHSG dengan komposisi baru secara simulasi tetap berada di level 5.388.

Sebaliknya, jika pasar secara bersamaan pulih 5%, IHSG dengan komposisi lama diperkirakan naik ke level 5.409, sedangkan indeks dengan komposisi baru mencapai 5.657.

Artinya, keuntungan maupun kerugian akibat pergerakan saham HSC tidak lagi tercermin langsung dalam IHSG. Efeknya akan terasa terutama ketika saham-saham tersebut mengalami pergerakan harga yang ekstrem.

Di sisi lain, penghapusan saham HSC membuat bobot saham-saham yang tersisa meningkat sekitar 22% berdasarkan simulasi Infovesta.

Bobot BBCA dan BBRI diperkirakan mencapai batas maksimum atau capping sebesar 9%. Sementara itu, bobot BMRI naik dari 5,57% menjadi 6,95% dan TLKM dari 3,59% menjadi 4,48%.

Kondisi tersebut meningkatkan konsentrasi IHSG pada saham-saham berkapitalisasi besar. Sepuluh saham terbesar diperkirakan menguasai hampir 47% indeks, naik dari 39,83% sebelumnya. Adapun bobot empat bank besar meningkat dari 24,33% menjadi 27,45%.

Dengan komposisi tersebut, pergerakan saham perbankan akan semakin menentukan arah IHSG.

Setiap perubahan harga BBCA sebesar 1%, misalnya, diperkirakan setara dengan pergerakan sekitar 4,76 poin indeks berdasarkan simulasi tersebut.

Perubahan komposisi IHSG juga berpotensi memengaruhi transaksi dalam jangka pendek. Produk investasi yang menggunakan IHSG sebagai acuan dapat menyesuaikan portofolionya dengan melepas saham HSC yang tidak lagi menjadi bagian dari perhitungan indeks.

Di tengah terbatasnya saham yang beredar di publik, penyesuaian portofolio tersebut berpotensi menimbulkan tekanan harga, terutama jika transaksi jual terkonsentrasi pada saham-saham dengan likuiditas rendah.

Meski demikian, perubahan ini dapat memberikan keuntungan bagi manajer investasi yang mengelola reksa dana saham dengan acuan IHSG.

Selama ini, mereka menghadapi dilema antara membeli saham HSC untuk mengikuti pergerakan indeks atau menghindarinya karena keterbatasan likuiditas dan risiko kesulitan menjual saham ketika dibutuhkan.

Baca Juga: Keluarkan dari Perhitungan IHSG, BEI Evaluasi Saham HSC Tiap Tiga Bulan

Dengan komposisi IHSG yang baru, pengelola dana berpeluang mereplikasi indeks dengan lebih mudah tanpa harus membeli saham yang likuiditasnya terbatas. Kinerja reksa dana saham juga diharapkan lebih sebanding dengan tolok ukur yang digunakan.

Bagi investor asing, kebijakan BEI ini dapat menjadi langkah positif untuk memperbaiki kualitas indeks. Namun, perubahan komposisi tersebut belum menjawab seluruh persoalan yang menjadi perhatian MSCI, terutama terkait keterbukaan kepemilikan saham, free float, dan penegakan aturan di pasar modal.

MSCI dijadwalkan menyampaikan keputusan final mengenai klasifikasi pasar Indonesia paling lambat pada akhir Juni 2027. Karena itu, perbaikan transparansi dan kualitas pasar masih menjadi pekerjaan rumah bagi otoritas bursa.