Benarkah IHSG bisa turun lebih dalam jika bunga acuan naik? Yuk kita tengok data lama



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dua hari ini, 16-17 Mei 2018, Bank Indonesia (BI) menyelenggarakan Rapat Dewan Gubernur (RDG). Meski banyak orang berharap bank sentral menaikkan bunga acuan demi menguatkan rupiah, sebagian kalangan di bursa saham justru ketar-ketir.

Selama ini ada anggapan umum di kalangan pelaku industri keuangan bahwa kenaikan bunga acuan bank sentral bakal menggerus pamor bursa saham. Kenaikan bunga acuan akan dikuti oleh kenaikan bunga simpanan perbankan serta kenaikan bunga surat utang pemerintah maupun obligasi korporasi.

Kenaikan bunga deposito bank dan kupon bunga surat utang berpotensi menarik minat para pemodal untuk memarkirkan uang mereka di bank atau obligasi. Para manajer investasi reksadana campuran, misalnya, boleh jadi akan memperbesar porsi investasinya di obligasi ketimbang saham.


Nah, benarkah kenaikan bunga acuan bank berkorelasi langsung dengan penarikan dana dari bursa saham dan berakibat penurunan harga saham?

Jika pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa mewakili kecenderungan naik-turun harga saham-saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) kita bisa membuktikan "hubungan" keduanya dengan mudah.

Tim riset KONTAN mencoba menengok data historis kedua indikator tersebut dalam kurun waktu 2005 sampai sekarang. Mari kita cermati.

Tahun 2005

Bunga acuan (%)

IHSG

Desember 2005

12.75

1.162,635

Nopember 2005

12.25

1.096,641

Oktober 2005

11

1.066,224

September 2005

10

1.079,275

Agustus 2005

8.75

1.050,090

Juli 2005

8.5

1.182,301

Pada tahun 2005, secara berturut-turut BI menaikkan bunga acuan BI-rate dari bulan Agustus sampai Desember. Dari semula BI-rate 8,5% pada bulan Juli, BI menaikkannya menjadi 8,75% pada Agustus. Efeknya ke IHSG? Pada kurun waktu yang sama, IHSG mengalami penurunan dari 1.182,39 (Juli) ke 1.050,90 (Agustus).

Pada September 2005, BI mendokrak lagi BI-rate dengan cukup drastis: 125 basis poin (bps)! Dari 8,75% BI-Rate langsung terbang ke 10%! Apa efeknya terhadap IHSG? Per akhir September IHSG malah naik tipis ke 1.079,27 dari semula 1.050,90 (Agustus).

Sebulan kemudian, Oktober, BI-rate melonjak lagi 100 bps ke 11%. Kali ini IHSG turun ke 1.066,22.

Setelah itu, BI menaikkan lagi BI-rate secara berturut-turut ke 12,25% (November) dan 12,75% (Desember). Selama dua bulan tersebut, IHSG naik lagi ke 1.096,641 (November) dan 1,162.635 (Desember).

Jadi, dihitung sejak kenaikan BI-rate dari Juli sampai Desember, IHSG memang turun meski sangat tipis. Bahkan selama empat bulan setelah kenaikan terakhir dan BI-rate anteng di 12,75%, IHSG terus mendaki hingga 1.464,40 (April 2005).

Bagaimana dengan kenaikan bunga acuan selanjutnya? 

Editor: Hasbi Maulana