Biaya Dana Meningkat, Penerbitan Obligasi Bank Tembus Rp 14 Triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerbitan obligasi perbankan terus berlanjut di tengah persaingan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) dan meningkatnya biaya dana.

Selain menjadi alternatif pendanaan, penerbitan surat utang juga dilakukan untuk menjaga likuiditas jangka panjang dan memperkuat struktur permodalan bank.

Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), penerbitan surat utang perbankan mencapai Rp 14 triliun sepanjang Januari-September 2026.


Nilai tersebut berasal dari delapan bank, terdiri atas obligasi senilai Rp 13,5 triliun dan sukuk sebesar Rp 500 miliar.

Baca Juga: Biaya Dana Naik, Penerbitan Obligasi Korporasi Menurun

Aktivitas pendanaan melalui pasar surat utang juga berpotensi berlanjut hingga akhir tahun. Per akhir September 2026, Pefindo mencatat mandat penerbitan surat utang korporasi dari 40 perusahaan mencapai Rp 56,2 triliun.

Dari jumlah tersebut, tiga bank berencana menerbitkan surat utang dengan nilai indikatif Rp 6,1 triliun.

Kepala Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan Pefindo Danan Dito mengatakan, pertumbuhan industri perbankan saat ini masih ditopang bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), terutama melalui pembiayaan program pemerintah.

Sementara itu, pertumbuhan bank swasta yang tidak terlibat dalam program tersebut relatif lebih terbatas. “Dari sisi pertumbuhan relatif jauh lebih kecil, yakni single digit,” ujar Danan dalam konferensi pers Pefindo, Rabu (14/10/2026).

Menurut Danan, kondisi likuiditas perbankan mulai membaik setelah sempat mengalami tekanan pada pertengahan tahun.

Meski demikian, bank tetap perlu mengantisipasi kebutuhan likuiditas menjelang akhir tahun, termasuk untuk memenuhi pembayaran kontrak pemerintah.

Baca Juga: Biaya Dana Naik, Pasar Obligasi Korporasi Berpotensi Makin Terpolarasi

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman menilai, maraknya penerbitan obligasi perbankan tidak serta-merta mencerminkan optimisme bank dalam menyalurkan kredit.

Tren tersebut juga dapat menunjukkan adanya tekanan struktural pada pendanaan dan kebutuhan pembiayaan kembali atau refinancing.

“Maraknya penerbitan obligasi perbankan mencerminkan ketatnya persaingan menghimpun DPK, meningkatnya biaya dana, dan kebutuhan menjaga likuiditas jangka panjang,” ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (14/10/2026). 

Rizal memperkirakan, penerbitan obligasi perbankan masih berpeluang berlanjut hingga akhir 2026.

Namun, bank cenderung lebih selektif dalam mengakses pasar di tengah tingginya imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) dan volatilitas pasar keuangan.

Bank dengan fundamental yang kuat relatif memiliki akses lebih baik untuk menghimpun dana melalui instrumen tersebut.