Biaya mahal, bank mengerem penerbitan surat utang tahun depan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi likuiditas perbankan masih ketat. Hal ini tentunya lambat laun dapat mempengaruhi kemampuan bank mencari pendanaan atau rasio cost of fund (cof). Alih-alih menekan CoF atau biaya dana, sejumlah bank terutama di kategori bank umum kelompok usaha (BUKU) III tengah berupaya untuk mengurangi pendanaan di pasar alias wholesale funding.

Salah satunya, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) yang menyatakan mulai tahun depan pihaknya bakal mengupayakan rasio wholesale funding terhadap dana pihak ketiga (DPK) mengerucut ke 10%. Menurun jauh dari periode 2018 yang mencapai 20%.

Direktur Keuangan BTN Nixon Napitupulu menyebut, baru ada dua rencana penggalangan dana di tahun depan. 


Baca Juga: Tahun 2020, BTN bakal terbitkan junior global bond dan sukuk

Pertama, penerbitan junior global bond senilai US$ 250 juta yang bakal dieksekusi pada awal tahun. Kedua, penerbitan sukuk dengan kisaran dana Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun.  Cara ini dilakukan BTN untuk mengurangi biaya dana atau cost of fund (CoF) yang masih tinggi di level 6,06%.

"Kami akan fokuskan untuk mencari DPK, terutama di segmen nasabah prioritas. Lebih murah dibandingkan surat utang," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (15/10) lalu.

Selain BTN, PT Bank Woori Saudara Tbk (BWS) juga berniat melakukan hal serupa. Direktur BWS I Made Mudiastra menyebut saat ini porsi wholesale funding masih cukup besar yakni mencapai 60%. "Kami sudah mulai mengurangi wholesale funding dengan retail funding. Tapi butuh waktu tentunya untuk meningkatkan DPK," katanya kepada Kontan.co.id, Kamis (17/10). 

Ia menambahkan, pemanfaatan DPK memang lebih baik bagi perbankan lantaran lebih stabil ketimbang penerbitan surat utang.

Editor: Herlina Kartika Dewi