BlackRock Berjuang Pertahankan Mandat Mengelola Dana Pensiun Kota New York



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Raksasa manajer investasi BlackRock kembali mendapat peluang untuk mempertahankan pengelolaan dana pensiun milik Kota New York senilai puluhan miliar dolar AS.

Kesempatan itu terbuka setelah Comptroller Kota New York, Mark Levine, memutuskan membuka proses tender ulang secara luas bagi pengelola aset dana pensiun kota, termasuk bagi BlackRock yang sebelumnya terancam kehilangan mandat tersebut karena isu komitmen iklim.

Langkah Levine berbeda dengan sikap pendahulunya, Brad Lander. Pada November tahun lalu, Lander merekomendasikan agar sejumlah dana pensiun Kota New York menghentikan kerja sama dengan BlackRock dan mencari pengelola baru untuk portofolio indeks saham.


Keputusan itu didasari kekhawatiran bahwa BlackRock mulai mengurangi tekanan terhadap perusahaan-perusahaan portofolionya terkait isu perubahan iklim.

Baca Juga: Dana Pensiun Bank Mandiri Jaga Pendanaan di Tengah Perlambatan Peserta Aktif

Menurut Lander, perubahan sikap tersebut terjadi seiring meningkatnya pengawasan pemerintahan Presiden AS Donald Trump terhadap industri keuangan, yang mendorong sejumlah manajer aset mengambil posisi lebih hati-hati dalam isu lingkungan.

Namun, Levine memilih pendekatan berbeda. Ia membuka proses seleksi ulang bagi seluruh manajer investasi tanpa mengecualikan pihak mana pun.

Saat ini, dana pensiun Kota New York memiliki investasi saham publik sekitar US$ 127 miliar, dengan sekitar US$ 80 miliar ditempatkan pada produk indeks pasif. BlackRock sendiri mengelola sekitar US$ 62 miliar aset saham publik milik kota tersebut.

Tender ulang ini menjadi momentum penting karena terakhir kali layanan pengelolaan indeks saham ditawarkan melalui proses kompetitif pada 2017. Setelah itu, kontrak hanya diperpanjang melalui dua periode tambahan masing-masing tiga tahun.

"Semua manajer investasi dipersilakan mengikuti proses tender ini," kata juru bicara Levine.

Baca Juga: Dana Pensiun Bank Mandiri Jaga Pendanaan di Tengah Perlambatan Penambahan Peserta

Levine menegaskan hubungan dengan pengelola aset tidak bisa berjalan secara otomatis tanpa evaluasi berkala. Menurut dia, pemilihan manajer investasi harus didasarkan pada standar kinerja tertinggi yang ditetapkan dana pensiun.

Persaingan ini juga mencerminkan tekanan yang semakin besar terhadap manajer aset global dalam menyikapi isu lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Di satu sisi, sejumlah investor institusi menuntut pengelola dana lebih agresif mendorong agenda keberlanjutan melalui hak suara dalam rapat pemegang saham.