Bukan Amerika, ini negara dengan tingkat vaksinasi Covid-19 terbesar



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Di seluruh dunia, sekitar sepertiga populasi telah menerima setidaknya satu dari 5 miliar dosis vaksin Covid-19 yang telah diberikan, dan 24,6% telah divaksinasi sepenuhnya.

Melansir The Street yang mengutip Our World in Data, per 23 Agustus, sekitar seperempat populasi di Asia telah divaksinasi penuh. Sementara di Eropa sekitar 46%.

Di AS, 51% populasi telah divaksinasi lengkap, dengan lebih dari 9% telah mendapatkan satu kali vaksin.


Akan tetapi, menurut sebuah laporan oleh Economist Intelligence Unit, peluncuran vaksin yang lambat di sebagian besar dunia ada harganya. Negara-negara yang tidak mencatatkan 60% populasinya divaksinasi pada pertengahan tahun depan akan mencatat kerugian produk domestik bruto (PDB) sebesar US$ 2,3 triliun pada tahun 2025.

Beberapa negara yang lebih kecil berhasil: UEA lebih dari 84%, Portugal 81%, Islandia 81% (per 6 Agustus) Denmark 75%, dan Finlandia dan Norwegia lebih dari 70% divaksinasi. Di Kanada, tingkat vaksinasi adalah 73% dan di Arab Saudi, 62%.

Negara-negara kaya telah memberikan 100 kali lebih banyak vaksin virus corona daripada ekonomi yang lebih miskin, kata laporan Economist. 

Baca Juga: PPKM berakhir hari ini, akankah diperpanjang? Ini penjelasan Satgas

Menurut New York Times, 82% vaksin di seluruh dunia telah diberikan di negara-negara berpenghasilan tinggi dan menengah ke atas, dan hanya 0,3% telah diberikan di negara-negara berpenghasilan rendah. 

Di India, negara terbesar kedua di dunia, hanya sekitar 9,4% orang yang divaksinasi pada 23 Agustus, dengan 23% lainnya divaksinasi sebagian.

Berikut adalah tingkat vaksinasi dari negara-negara terpadat di dunia, pada 23 Agustus, menurut Our World in Data. Angka-angka tersebut termasuk divaksinasi lengkap dan sebagian. Untuk beberapa negara, data tersebut berasal dari awal Agustus. Data populasi berasal dari Worldometer.

Baca Juga: Jepang akan mengeluarkan sertifikat vaksinasi COVID-19 digital pada Desember 2021

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie