KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT BUMA Internasional Grup Tbk (
DOID) menyiapkan sejumlah strategi untuk mencapai pemulihan kinerja secara bertahap. Di tengah berbagai dinamika yang mengiringi industri pertambangan pada tahun ini, DOID membidik target pendapatan yang realistis pada kisaran US$ 1,2 miliar - US$ 1,3 miliar. Direktur BUMA Internasional Grup, Iwan Fuad Salim, mengungkapkan bahwa target tersebut mempertimbangkan dinamika operasional dan industri pertambangan yang masih berlangsung.
Baca Juga: Buma Internasional Cetak Peningkatan Efisiensi dan Produktivitas Selain itu, DOID juga fokus untuk menjaga kualitas pendapatan serta memperkuat profitabilitas operasional. "Perseroan tetap berfokus pada pemulihan kinerja secara bertahap, khususnya melalui peningkatan produktivitas, disiplin biaya, optimalisasi portofolio, dan penguatan arus kas," ungkap Iwan kepada Kontan.co.id, Jumat (10/7/2026). Mengawali tahun 2026, pendapatan DOID mengalami penurunan 9,57% secara tahunan atau
year on year (yoy) dari US$ 351,88 juta menjadi US$ 318,18 juta. Meski pendapatan menyusut, tapi DOID mampu memangkas rugi bersih sebanyak 61,95% (yoy) dari US$ 67,02 juta menjadi US$ 25,50 juta pada kuartal I-2026. Iwan menjelaskan, penurunan pendapatan DOID pada kuartal I-2026 terutama mencerminkan basis portofolio aktif yang lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Anak Usaha Buma Internasional Perkuat Ekosistem Pendidikan Vokasi Volume
overburden removal turun sekitar 12% (yoy) menjadi 89 juta bank cubic meter (bcm). Sementara produksi batubara turun sekitar 20% (yoy) menjadi 15 juta ton. Penurunan volume terutama dipengaruhi oleh berakhirnya kontrak di site Binungan di Indonesia dan site Burton di Australia, serta ramp-down dua site di Indonesia pada tahun 2025. "Meski demikian, site yang beroperasi normal tetap menunjukkan kinerja yang stabil," kata Iwan. Sementara itu, harga jual rata-rata atau
Average Selling Price (ASP) bisnis kontraktor pertambangan naik sekitar 3% (yoy). Hal ini didukung oleh porsi kontrak
rise-and-fall yang lebih tinggi serta kenaikan tarif berjenjang yang terkait dengan harga batubara. Dari sisi
bottom line, penurunan rugi bersih didorong oleh perbaikan EBITDA, disiplin biaya, peningkatan produktivitas, serta beberapa faktor non-operasional yang mendukung.
Baca Juga: Fondasi Lebih Kuat, Buma Internasional (DOID) Targetkan Pemulihan Kinerja Tahun Ini EBITDA DOID pada kuartal I-2026 meningkat 98% (yoy) menjadi US$ 28 juta, dengan margin EBITDA naik dari 5% pada kuartal I-2025 menjadi 11% pada kuartal I-2026. Perbaikan tersebut didukung oleh penurunan biaya unit per bcm sebesar 1% (yoy), penurunan biaya tenaga kerja per bcm sebesar 4% (yoy), serta penguatan produktivitas dan disiplin operasional. Selain itu, bottom line juga didukung oleh keuntungan dari optimisasi portofolio Atlantic Carbon Group, Inc (ACG) melalui penjualan aset lahan, penurunan kerugian investasi dari 29Metals, serta tidak berulangnya pencadangan piutang di Australia yang dicatat pada kuartal I-2025.