KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sudah enam bulan sejak terakhir suku bunga acuan atau BI rate turun pada September 2025 ke level 4,75%, namun bank terlihat belum ada tanda-tanda menurunkan suku bunga acuannya secara signifikan. Padahal, penurunan suku bunga di waktu itu menimbulkan harapan berakhirnya era suku bunga tinggi. Penurunan suku bunga kredit di sektor perbankan terlihat masih terbatas. Bank Indonesia mencatat, hingga Februari 2026, suku bunga kredit baru turun 40 bps menjadi 8,80% dari 9,20% pada awal 2025.
Adapun, jika dilihat dari data Suku Bunga Kredit (SBDK) secara bulanan, pada Januari 2026 telah turun cukup signifikan sebesar 28 basis points (bps) menjadi sebesar 8,78%.
Baca Juga: Bunga Kredit Masih Sulit Turun Meski BI-Rate di Level Terendah, Ini Pemicunya Sementara itu, kredit perbankan pada Februari 2026 tumbuh sebesar 9,37% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan perkembangan Januari 2026 sebesar 9,96% (yoy). Berdasarkan kelompok penggunaan, perkembangan ini didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang pada Februari 2026 masing-masing tumbuh sebesar 20,72% (yoy), 3,88% (yoy), dan 6,34% (yoy). Bank Indonesia (BI) memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8%-12% dipengaruhi oleh sisi permintaan dan penawaran. Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mendorong perbankan untuk mempercepat penurunan suku bunga dana dan kredit agar dapat meningkatkan permintaan kredit. “Upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu ditingkatkan untuk mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi,” tegas Perry saat konferensi pers RDG BI beberapa waktu lalu. BI berharap percepatan transmisi ini dapat memperkuat fungsi intermediasi perbankan dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Baca Juga: Menanti Janji Bankir Turunkan Suku Bunga Kredit pada Tahun Depan Adapun Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menjelaskan, salah satu penyebab utama bunga kredit sulit turun adalah biaya dana bank yang masih tinggi. Kondisi ini membuat perbankan harus tetap menjaga margin agar tetap sehat. “Biaya dana bank masih tinggi sehingga bunga kredit perlu menyesuaikan dengan biaya dana tersebut,” ujarnya kepada kontan.co.id, Rabu (1/4/2026). Dari sisi sektoral, Trioksa menilai penurunan bunga kredit belum merata. Namun, sektor dengan risiko relatif rendah cenderung lebih cepat mendapatkan bunga yang lebih kompetitif. “Dari sisi risiko, sektor yang berhubungan dengan kebutuhan pokok seperti konsumsi, pertanian, dan perkebunan memiliki risiko lebih rendah sehingga bunganya bisa lebih rendah,” jelasnya. Meski demikian, ia melihat pertumbuhan kredit masih cenderung tertahan. Bank juga cenderung lebih selektif dalam menyalurkan kredit guna menjaga likuiditas dan kualitas aset. “Pertumbuhan kredit secara umum masih tertekan, sehingga bank lebih berhati-hati dalam ekspansi,” katanya. Trioksa menambahkan, sektor yang masih mencatat pertumbuhan relatif tinggi adalah sektor yang berkaitan dengan belanja pemerintah, seperti konstruksi dan sektor makanan. Untuk tahun ini, ia memproyeksikan pertumbuhan kredit berada di kisaran 7%–9%. Menurutnya, berbagai tekanan global dan regional masih menjadi faktor penahan ekspansi kredit.
Baca Juga: Penurunan Bunga Kredit Masih Lambat, BI Dorong Bank Percepat Penyesuaian “Strategi yang perlu dilakukan bank adalah meningkatkan efisiensi operasional dan mencari sumber dana murah agar bunga kredit bisa ditekan,” imbuhnya. Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai faktor lain yang menahan penurunan bunga kredit adalah masih tingginya bunga deposito dan strategi bank dalam mempertahankan dana pihak ketiga. “
Cost of fund masih mahal karena adanya
special rate untuk menjaga loyalitas deposan,” ujarnya. Bhima juga menyoroti adanya jeda waktu (lag) dalam transmisi kebijakan moneter ke bunga kredit perbankan, yang umumnya berkisar 1–2 bulan. Namun dalam praktiknya, penurunan bunga kredit lebih cepat dirasakan oleh segmen korporasi dibandingkan UMKM. “Debitur korporasi punya daya tawar lebih tinggi, sehingga lebih cepat menikmati penurunan bunga, terutama pada kredit investasi,” jelasnya. Ia mencatat, kredit korporasi sempat tumbuh hingga 15% secara tahunan pada Januari 2026, didorong oleh penurunan bunga yang lebih cepat di segmen tersebut. Sebaliknya, segmen UMKM masih menghadapi tekanan, antara lain akibat kenaikan biaya produksi dan logistik yang meningkatkan profil risiko debitur. “Kenaikan biaya seperti bahan baku dan logistik membuat risiko UMKM meningkat, sehingga bunga kreditnya belum turun signifikan,” katanya. Bhima memperkirakan pertumbuhan kredit tahun ini berada di kisaran 8,5%–9,3% secara tahunan. Adapun sektor yang diproyeksikan tumbuh tinggi antara lain kredit yang terkait program pemerintah seperti konstruksi perumahan dan program pangan. Di sisi lain, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan menyebut suku bunga kredit sebenarnya sudah mulai turun secara bertahap, seiring penurunan biaya dana.
Baca Juga: Meski BI Rate Dipangkas 150 Basis Poin, Bunga Kredit Baru Turun 15 Basis Poin “Relatif suku bunga sudah berangsur turun sejalan dengan
cost of fund yang juga menurun, namun kami tetap menjaga kehati-hatian,” ujarnya. Menurut Lani, permintaan kredit saat ini juga belum terlalu kuat, sehingga bank tetap bersikap prudent di tengah ketidakpastian global, termasuk risiko geopolitik. Per Februari 2026, penyaluran kredit CIMB Niaga mencapai Rp 167,60 triliun atau naik 6,67% secara tahunan. Jika dilihat dari laman perusahaan, data SBDK CIMB Niaga per 31 Maret 2026 untuk kredit korporasi berada di level 8,15%, kredit ritel 8,90%, kredit kecil 8,90%, kredit menengah 8,90%,KPR/KPA 8,70%, non KPR/KPA 12,1%.