CEO Jagartha Advisors: Jangan kapok saat rugi di awal investasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pernah buntung saat pertama kali berinvestasi forex, CEO Jagartha Advisors, FX Iwan tidak kapok untuk berinvestasi kembali. Bahkan  pengalaman investasi pertamanya tersebut justru mengantar Iwan untuk berinvestasi kepada banyak instrumen hingga menjadi angel investor

Saat investasi forex populer di Indonesia sekitar tahun 2000 silam, Iwan ikut mencoba berinvestasi pada instrumen yang  memiliki volatilits tinggi tersebut. "Kenal forex dari keluarga juga teman-teman karena saat itu forex masih baru muncul dan banyak orang Indonesia yang pengen coba," kata Iwan yang  mencoba investasi forex saat awal dirinya  masuk  ke Universitas Binus.

Akhirnya, hanya berbekal rasa penasaran dan kebetulan memiliki modal cukup, sekitar US$ 5.000 ia menguji adrenalin dalam berinvestasi di forex. Lantas hasilnya, Iwan mengatakan  ujung-ujungnya tentu merugi. Hingga akhirnya, Iwan memutuskan untuk tidak melanjutkan investasinya di forex dan fokus menamatkan sarjana dari jurusan teknik industri.


Setelah lulus sarjana, ternyata pengalaman trading forex membuat Iwan semakin penasaran untuk mendalami dunia ekonomi dan investasi. "Dari forex jadi belajar makro ekonomi secara umum untuk tau arah pergerakan valuta asing," kata Iwan.

Baca Juga: Lie Kurniawan: Meniti Karier Berbekal Kepiawaian di Pasar Modal Sejak Usia Sekolah

Akhirnya Iwan mengambil Certified Financial Planner (CFP) dan mengawali karir di dunia perbankan. Dari sinilah Iwan memperdalam pengetahuan bagaimana investasi yang baik dan benar untuk pemula. 

Dari pengalamannya Iwan menyadari bahwa investor pemula perlu mencari instrumen investasi yang tidak dia kelola sendiri, melainkan melalui reksadana. Iwan mengatakan dalam memilih reksadana juga harus disesuaikan dengan profil risiko diri kita masing-masing.

Dari reksadana Iwan jadi mengerti bagaimana cara kerja pasar modal. Dia juga mengamati aset saham di reksadananya. Hingga akhirnya, Iwan memutuskan ingin mendapat keuntungan lebih besar dengan memegang sendiri underlying asset reksadananya, yaitu saham.

Baca Juga: Ganjar Pranowo: Pengusaha pariwisata mohon maaf Anda rugi

Selain berinvestasi di pasar modal, Iwan mengembangkan investasinya pada bisnis riil. Iwan memutuskan untuk menjadi angel investor pada start up sejak lima tahun terakhir. "Sebenarnya dalam 10 tahun terakhir investasi di start up tumbuh signifikan dan akhirnya ikutan terjun juga," kata Iwan. 

Iwan yang sempat mengambil program Executive Education, Venture Capital di University of California Berkeley, Haas School of Business ini mengaku menikmati dirinya sebagai investor start up karena bisa secara tidak langusng turut membantu perkembangan perusahaan tersebut. Berbeda dengan investor saham yang pengelolaanya hanya dilakukan oleh manajemen.

Baca Juga: Mencermati Prospek Bisnis dan Investasi Agro Tahun 2021

Editor: Wahyu T.Rahmawati