CEO Twitter Jack Dorsey berbagi rahasia meraih kesuksesan



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. CEO Twitter Jack Dorsey berbagi rahasia meraih kesuksesan. Menurut Dorsey, anggapan bahwa perlu bekerja sepanjang hari dan tak pernah mengambil cuti kerja untu meraih sukses sudah ketinggalan zaman. Pasalnya, gaya hidup bekerja sepanjang hari dan sepanjang malam itu justru kerap menyebabkan kelelahan.

Pendiri Twitter dan Square ini mengatakan, ia lebih suka mengoptimalkan waktunya agar setiap jam bermakna  atau setiap menit bermakna daripada memaksimalkan jumlah jam atau menit untuk mengerjakan sesuatu.

"Karena saya baru saja menemukan bahwa pemaksimalan waktu mengurangi kualitas dalam waktu yang saya miliki," ujarnya seperti dilansir CNBC, Senin (31/8).


Baca Juga: Terungkap! Pelaku peretasan akun Twitter para tokoh dunia baru berusia 17 tahun

Miliarder berusia 43 tahun itu menjelaskan bahwa ketika orang terlalu kaku harus bekerja sepanjang waktu, lebih sulit untuk menjadi sadar diri dan memperhatikan apa yang terjadi di dunia sekitar mereka. Padahal, bagi Dorsey kesadaran diri merupakan salah satu ciri pribadi  ia miliki untuk meraih kesuksesan besarnya saat ini.

Banyak orang berasumsi bahwa sukses berarti bekerja 20 jam sehari dan saya tidur empat jam. "Karena itulah yang saya baca yang dilakukan Elon Musk," kata Dorsey. Namun menurut Dorsey, Musk sendiri sudah menyadari kesalahan itu dan menyebutnya sebagai hal gila.

Dorsey telah menemukan cara untuk menjadwalkan refleksi diri ke dalam harinya sehingga dia dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk bekerja.

Baca Juga: Buntut pembajakan akun pesohor dunia, FBI turun tangan selidiki peretasan Twitter

Sebelum karyawan Twitter dan Square mulai bekerja dari rumah karena Covid-19, hari-hari biasa untuk Dorsey akan dimulai pada jam 5 pagi dengan bermeditasi, katanya di podcast.

Ia mempraktikkan "meditasi vipassana" atau "meditasi pandangan terang", sebuah teknik yang berfokus pada pengamatan dan pemahaman pola pikir. (Dorsey telah dikritik karena melakukan meditasi vipassana 10 hari di Myanmar pada hari ulang tahunnya pada tahun 2018, yang oleh beberapa orang disebut tuli nada di tengah serangan militer terhadap orang-orang Muslim Rohingya.)

Dorsey kemudian akan minum kopi dan berjalan sejauh lima mil ke tempat kerja, yang memakan waktu satu jam 20 menit. Dia bilang dia biasanya mendengarkan podcast atau buku audio saat berjalan, "agar saya belajar," katanya.

“Hal terpenting tentang pagi itu adalah, saya bermeditasi, yang berarti saya menenangkan kepala saya, saya melakukan beberapa latihan fisik, [dan] saya belajar hanya dalam waktu tiga jam yang singkat dan efektif sebelum pertemuan saya dimulai,” kata Dorsey.

Editor: Noverius Laoli