Champion Pacific (IGAR) berharap permintaan kemasan membaik di semester 2 tahun ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Champion Pacific Indonesia Tbk berharap pasar kemasan bisa kembali menggeliat di paruh kedua tahun ini.  Dalam hal ini, datangnya era new normal atau tatanan kehidupan baru yang ditandai dengan relaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diharapkan bisa menstimulasi permintaan kemasan.

‘Angin segar’ new normal sendiri sudah mulai dirasakan oleh emiten kemasan berkode saham IGAR tersebut. Antonius Muhartoyo, Presiden Direktur PT Champion Pacific Indonesia Tbk mengatakan, pihaknya sudah mulai melihat adanya tanda-tanda pemulihan pasar.

“Ya kalau kami sih melihat sudah mulai ada tanda-tanda perbaikan ya, seperti order juga kelihatannya agak meningkat untuk bulan-bulan ke depan ini, tendensinya meningkat,” kata Antonius dalam acara paparan publik yang dihelat secara virtual pada Senin, (29/6).


Baca Juga: Ini penyebab kinerja semester I Champion Pacific Indonesia (IGAR) kurang maksimal

Sebagai gambaran, sebelumnya kinerja penjualan IGAR memang sempat terdampak oleh efek gulir pandemi corona (Covid-19) meski tidak signifikan. Permintaan kemasan pada beberapa sektor sempat mengalami penurunan.

Pada sektor farmasi misalnya, permintaan kemasan untuk obat ethical alias obat resep, obat over the counter atau obat bebas sempat menyusut.

Dugaan Antonius, hal ini disebabkan oleh menurunnya tingkat kunjungan pasien non-Covid-19 ke rumah sakit di tengah mewabahnya corona. Hal ini praktis akan mengurangi permintaan kemasan obat reguler karena kebutuhannya obatnya berkurang.

Di sisi lain, permintaan kemasan pada sektor makanan dan minuman (mamin) juga ikut susut. Maklum saja, permintaan produk-produk makanan yang biasa dikonsumsi pada acara-acara sosial (acara berkumpul) juga berkurang seiring berkurangnya aktivitas di luar rumah.

Alhasil, meski permintaan kemasan untuk produk-produk kesehatan seperti multivitamin masih baik, kinerja penjualan IGAR di sepanjang paruh pertama ini diperkirakan bakal melandai. Sebagian besar penjualannya masih berasal dari sektor farmasi yang porsi kontribusinya mencapai 95% dari total penjualan.

Editor: Yudho Winarto