China dan Filipina meredakan ketegangan hubungan terkait Laut China Selatan



KONTAN.CO.ID - MANILA. China dan Filipina mulai bergerak meredakan ketegangan hubungan keduanya menyusul percekcokan verbal terakhir mereka terkait putusan arbitrase 2016 yang menolak klaim Beijing atas Laut China Selatan.

Para diplomat top dari kedua negara mengadakan telekonferensi pada hari Selasa atas permintaan Menteri Luar Negeri China Wang Yi, seperti dirilis Kementerian Luar Negeri Filipina pada hari Rabu (15/7).

"Kedua pihak menegaskan kembali bahwa isu-isu maritim yang kontroversial bukanlah hal utama dari hubungan bilateral Filipina-China," kata Manila dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Nikkei Asian Review, Kamis (16/7).


Baca Juga: Pakar: Laut China Selatan bisa jadi titik kritis yang mengarah ke bentrokan militer

Pertemuan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan itu, setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo pada hari Senin meningkatkan retorika Washington terhadap China.

"Klaim Beijing atas sumber daya lepas pantai di sebagian besar Laut China Selatan sepenuhnya melanggar hukum, seperti kampanye penindasan untuk mengendalikan mereka," kata Pompeo.

Pertemuan antara Wang dan Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin berlangsung sekitar satu jam.

Filipina mengatakan kedua belah pihak sepakat untuk terus mengelola masalah-masalah yang menjadi perhatian dan mempromosikan kerja sama maritim dalam konsultasi persahabatan sambil menyetujui untuk memperkuat kerja sama strategis komprehensif kedua negara.

Wang mengatakan, dengan upaya bersama, China dan Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), situasi di Laut China Selatan tetap stabil secara umum, tetapi AS, di luar kebutuhan geopolitiknya, terus membuat gelombang dan mempromosikan militerisasi di Laut China Selatan, seperti dilaporkan Xinhua.

Baca Juga: China tak gentar dengan sanksi apa pun dari AS terkait Laut China Selatan

Wang menambahkan bahwa pernyataan yang baru-baru ini dibuat AS secara terang-terangan melanggar komitmennya untuk memegang posisi netral dalam sengketa Laut China Selatan, dan secara sengaja menaburkan perselisihan antara China dan negara-negara ASEAN dalam upaya untuk memprovokasi konflik dan merusak stabilitas regional.

"Praktik flip-flop AS hanya akan merusak reputasinya sendiri, katanya," menurut laporan Xinhua.

Sementara itu, Pompeo mengatakan dalam jumpa pers di Washington pada hari Rabu bahwa penolakan terhadap klaim maritim China di Laut Cina Selatan terjadi setelah tinjauan hukum yang luas.

Editor: Noverius Laoli