Dampak Rupiah Tertekan: Harga Nasi Padang Naik, Penerbangan Terancam Sepi



KONTAN.CO.ID - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan belum mereda. Bahkan tekanannya berpotensi berlanjut menembus level Rp 17.500 per dollar Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat ini.

Kondisi tersebut dipicu dua faktor, yakni internal dan eksternal.

Dari aspek eksternal, sentimen datang dari keputusan bank sentral AS alias Federal Reserve (The Fed) yang menahan suku bunga acuan.


Lalu, lonjakan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum juga mereda.

The Fed sendiri telah mengumumkan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5-3,75 persen dalam rapat terbaru, Rabu (29/4/2026).

Keputusan diwarnai perpecahan internal yang cukup tajam, dengan delapan pejabat mendukung dan empat lainnya menolak menjadi voting paling terbelah sejak 1992.

Sementara, harga minyak dunia bergerak dramatis dalam sehari, sempat melonjak 126,41 dollar AS per barrel, sebelum akhirnya turun tajam di penutupan perdagangan.

Mengutip Reuters Jumat siang, harga minyak mentah Brent sempat mencapai posisi tertinggi sejak Maret 2022 itu, ditutup turun 4,02 dollar AS atau 3,41 persen menjadi 114,01 dollar AS per barrel.

Baca Juga: Prabowo Umumkan Potongan Aplikator Ojol 8%, Ini Respon Resmi Grab Indonesia

Kemudian, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga melemah 1,81 dollar AS atau 1,69 persen ke posisi 105,07 dollar AS per barrel, setelah sebelumnya menyentuh 110,93 dollar AS per barrel.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi tekanan eksternal dibandingkan faktor domestik.

Ia menyebut bahwa dinamika global, terutama kenaikan harga energi, telah mendorong penguatan dollar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menurutnya, pergantian kepemimpinan bank sentral AS dari Jerome Powell kepada Kevin Warsh merupakan proses yang wajar secara siklus jabatan.

Namun, pasar menilai Warsh sebagai figur yang memiliki kecenderungan mempertahankan, bahkan menaikkan suku bunga, sehingga ekspektasi pelonggaran moneter menjadi tertunda.

Dalam pernyataannya, Warsh menegaskan bahwa bank sentral bersifat independen dalam menentukan arah kebijakan moneter, baik dalam mempertahankan, menaikkan, maupun menurunkan suku bunga, tergantung kondisi ekonomi global.

Di sisi lain, keputusan The Fed untuk menahan suku bunga saat ini juga dipengaruhi oleh koordinasi global.

Lembaga seperti International Monetary Fund dan World Bank sebelumnya telah memberikan sinyal kepada bank sentral global untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga di tengah lonjakan harga minyak yang dinilai bersifat sementara.

Namun, kondisi pasar energi justru semakin bergejolak akibat konflik di Timur Tengah.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk aksi saling blokade di jalur strategis seperti Selat Hormuz, mendorong lonjakan harga minyak mentah global.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi faktor krusial karena tingginya ketergantungan terhadap impor energi.

Ibrahim mencatat kebutuhan impor minyak Indonesia mencapai 1,5 juta barrel per hari, sehingga lonjakan harga langsung meningkatkan permintaan terhadap dollar AS.

Kondisi itu berpotensi menggerus neraca transaksi berjalan, serta memperlebar defisit anggaran, mengingat asumsi harga minyak dalam APBN hanya di kisaran 70 dollar AS per barrel dan nilai tukar Rp 16.500 per dollar AS.

“Kemudian kita lihat bahwa kok kenapa sih rupiah ini kok terus melemah? karena kebutuhan untuk impor minyak kita itu cukup tinggi 1,5 juta barrel, nah sehingga membutuhkan dollar yang cukup besar, sedangkan di APBN itu dipatok kan di Rp 16.500. Kemudian untuk minyak mentah sendiri kan dipatok 70 dollar AS per barrel, ini akan mengikis apa? neraca transaksi berjalan,” ujar Ibrahim saat dihubungi Kompas.com, Jumat (1/5/2026).

Dampak ke Sektor Riil

Naasnya, lonjakan harga minyak mulai terasa di sektor riil atau kehidupan masyarakat.

Biaya energi yang meningkat mendorong kenaikan biaya produksi dan distribusi, yang akhirnya diteruskan ke level konsumen.

Ibrahim mencatat kenaikan harga bahan bakar, termasuk avtur yang digunakan pesawat, membuat biaya operasional maskapai meningkat.

Kondisi tersebut mendorong maskapai mengurangi frekuensi penerbangan dan menaikkan harga tiket pesawat.

Dampaknya kemudian merembet ke sektor ketenagakerjaan, karena berkurangnya aktivitas operasional berpotensi diikuti oleh pengurangan karyawan, termasuk di lingkungan bandara.

Ia mengaku telah berkomunikasi langsung dengan pekerja di bandara dan melihat dampak tersebut cukup signifikan terhadap aktivitas dan tenaga kerja di sektor tersebut.

“Penggunaan avtur untuk pesawat ini harganya naik sehingga apa? banyak pesawat yang mengurangi penerbangannya. Nah, kalau mengurangi penerbangannya, itu berdampak terhadap karyawan. ada karyawan pengurangan, dan ini saya langsung ya melakukan komunikasi langsung dengan karyawan di bandara, dampaknya cukup luar biasa,” paparnya.

Baca Juga: Daftar 4 Bansos yang Cair di Bulan Mei 2026, Catat!

Tak hanya itu, kenaikan harga makanan pun mulai naik, salah satunya harga nasi padang di warung.

Ia mencontohkan, harga nasi padang yang sebelumnya Rp 15.000, kini naik menjadi Rp 17.000.

Lonjakan juga terjadi pada makanan siap saji karena biaya bahan pendukung seperti plastik ikut meningkat, seiring naiknya harga komoditas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku usaha telah mengantisipasi kenaikan biaya akibat penguatan dollar AS dan pelemahan rupiah, sehingga penyesuaian harga menjadi tidak terhindarkan.

“Nah ini kemudian di sisi lain pun juga dengan naiknya harga minyak, kemudian kebutuhan impor minyak cukup besar, ini barang-barang ini akan mengalami kenaikan. Saya sekarang beli makanan padang saja, yang tadinya Rp 15.000, contoh ya, itu jadi Rp 17.000, ini satu contoh,” kata dia.

“Kemudian makanan siap saji itu pun juga mengalami kenaikan, semua mengalami kenaikan karena harga plastik naik, kemudian harga-harga yang lainnya juga mengalami kenaikan. Kemudian pada saat rupiah di level 17 ribu itu adalah level dimana masyarakat pengusaha-pengusaha harus menyesuaikan harga,” lanjut Ibrahim.