Data terbaru, BEI sebut ada sekitar 32 perusahaan tercatat memiliki ekuitas negatif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada sekitar 32 perusahaan yang memiliki ekuitas negatif pada laporan keuangan terakhir.

Emiten-emiten tersebut antara lain bergerak di sektor investment seperti PT Magna Investama Mandiri Tbk (MGNA), PT First Indo American Leasing Tbk (FINN), PT Mitra, Investindo Tbk (MITI) dan PT Onix Capital Tbk (OCAP).

Adapun harga saham MGNA dan FINN Senin (22/2) Rp 50, sedangkan MITI Rp 63 dan OCAP Rp 159. Saham tersebut disuspensi oleh BEI kecuali OCAP.


Kemudian beberapa bergerak di sektor transportasi atau jasa bongkar muat yaitu PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Steady Safe Tbk (SAFE), PT Zebra Nusantara Tbk (ZBRA), PT Capitol Nusantara Indonesia Tbk (CANI), PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) dan PT Itcsi Jasa Prima Tbk (KARW).

Baca Juga: Ajaib Sekuritas bersama BEI menginisiasi 1.000 program generasi saham

Per Senin (22/2) harga saham GIAA ditutup pada level Rp 324, SAFE Rp 175, ZBRA Rp 52, CANI Rp 328, TAXI Rp 50, dan KARW Rp 64.

Analis Philip Sekuritas Anugerah Zamzami Nasr mengatakan saham-saham yang memiliki ekuitas negatif memang dapat dikatakan memiliki kinerja yang kurang baik. Namun yang memiliki potensi pemulihan kinerja yaitu GIAA.

"Mungkin dari nama itu hanya GIAA yang berpeluang positif lagi ekuitasnya, kalau obligasi wajib konversi sudah dikonversikan menjadi saham," jelas Zamzami, Selasa (23/2).

Pada awal Februari 2021 lalu, GIAA telah menyelesaikan proses pencairan dana hasil OWK sebesar Rp 1 triliun dari pemerintah. Secara keseluruhan GIAA akan menerbitkan OWK dengan nilai maksimum Rp 8,5 triliun dengan tenor maksimum 7 tahun secara bertahap hingga 2023.

Per kuartal III-2020 ekuitas GIAA tercatat negatif US$ 455,57 juta. Padahal di periode yang sama tahun sebelumnya ekuitas GIAA tercatat positif US$ 720,62 juta.

Zamzami juga melihat tidak banyak nama yang cukup familiar bagi investor. Sehingga untuk saat ini seluruh saham yang ekuitasnya negatif belum direkomendasikan.

Editor: Yudho Winarto