Defisit APBN Melebar di Awal Tahun, Dampak Geopolitik Mulai Terasa



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan geopolitik global, khususnya memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, mulai menekan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. 

Hingga akhir Maret, defisit anggaran tercatat melebar signifikan, dipicu lonjakan belanja negara yang jauh melampaui pertumbuhan pendapatan.

Data Kementerian Keuangan menunjukkan, defisit APBN per 31 Maret 2026 mencapai Rp 240,1 triliun atau setara 0,93% dari produk domestik bruto (PDB).


Angka ini melonjak 140,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 99,8 triliun atau 0,41% dari PDB.

Pelebaran defisit terjadi karena ketimpangan antara pendapatan dan belanja negara. Hingga Maret, pendapatan negara baru mencapai Rp 574,9 triliun atau 18,2% dari target tahunan.

Baca Juga: Defisit APBN Melebar 1,56% dari PDB per September 2026

Meski masih tumbuh 10,5% secara tahunan, laju ini belum mampu mengimbangi derasnya realisasi belanja.

Di sisi penerimaan, pajak masih menjadi penopang utama dengan realisasi Rp 394,8 triliun atau tumbuh 20,7% secara tahunan. Namun, pertumbuhan ini mulai melambat dibandingkan dua bulan pertama tahun ini yang sempat mencapai 30,4%.

Sebaliknya, belanja negara justru melesat lebih cepat. Hingga akhir Maret, realisasinya mencapai Rp 815 triliun atau 21,2% dari pagu APBN, melonjak 31,4% dibandingkan tahun lalu. 

Kenaikan tajam terutama terjadi pada belanja kementerian/lembaga (K/L) yang tumbuh 43,4% menjadi Rp 281,2 triliun, serta belanja non-K/L seperti subsidi energi dan pembayaran bunga utang yang melonjak 51,5%.

Baca Juga: Program Strategis Prabowo Berpotensi Memperlebar Defisit APBN 2026, Cermati Risikonya

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, lonjakan belanja di awal tahun merupakan strategi pemerintah untuk meratakan penyerapan anggaran sepanjang tahun.

“Saya ingin menciptakan belanja pemerintah tumbuh hampir merata sepanjang tahun, jangan sampai menumpuk di akhir tahun,” ujarnya.