Diprediksi kembali molor, megaproyek 35.000 MW baru beroperasi 23% di semester I-2020



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyelesaian megaproyek kelistrikan 35.000 Megawatt (MW) bakal kembali mundur. Penyesuaian terhadap anjloknya pertumbuhan konsumsi (demand) listrik akibat pandemi Covid-19 menjadi penyebab utamanya.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana membeberkan, megaproyek ini terdiri dari 397 unit pembangkit berkapasitas total 35.528 MW. Hingga Juni 2020 baru ada 200 unit pembangkit yang yang beroperasi (COD/SLO) dengan kapasitas 8.187 MW atau 23% dari keseluruhan proyek.

Baca Juga: Subsidi listrik tahun ini diproyeksikan bakal membengkak menjadi Rp 62,93 triliun


Mayoritas proyek masih dalam masa konstruksi yakni sebanyak 98 unit pembangkit dengan kapasitas 19.250 MW (54,2%). Selanjutnya, ada 45 unit pembangkit berkapasitas 6.528 MW (18,4%) masih dalam fase kontrak belum konstruksi.

Sedangkan 24 unit pembangkit berkapasitas 839 MW (2,4%) masih dalam tahap pengadaan, dan 30 unit pembangkit dengan kapasitas 724 MW (2%) masih dalam perencanaan.

Dengan penurunan demand akibat pandemi Covid-19, akan ada pergeseran jadwal COD di Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk tidak membebani operasional PT PLN (Persero).

"Karena ada penurunan demand, maka kemudian di RUPTL akan digeser jadwal COD-nya untuk tidak membebani lebih jauh ke operasional PLN," kata Rida dalam konferensi pers virtual yang digelar Kamis (30/7).

Editor: Anna Suci Perwitasari