Direktur Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya: Belajar investasi saham dari nol



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tidak pernah terbayang dibenak Bernadus Setya Ananda Wijaya, Director of Business Development Sucor Sekuritas akan menggeluti dunia saham sebagai pekerjaannya. Sejak empat tahun silam, lelaki bergelar sarjana teknik kimia itu mempelajari dunia saham mulai dari nol. 

"Awal belajar susah banget. Apalagi saya tidak punya latar belakang di situ," ungkap Bernadus mengenang kembali pengalamannya terjun mempelajari dunia saham pertama kali. 

Minatnya terhadap dunia investasi mulai tumbuh ketika dia merasa jerih payahnya selama tiga tahun awal merantau di ibu kota tidak menghasilkan aset yang seberapa. Pada saat itu, Bernadus merasa aset yang dimilikinya tidak sebanding dengan pendapatan yang dia kantongi setiap bulan. Seharusnya, dengan pendapatan yang dia terima aset yang dimilikinya bisa lebih besar dibandingkan yang dia punyai saat itu. 


Kemudian pada tahun 2016 Bernadus memutuskan untuk bekerja di perusahaan sekuritas. Di situlah rasa penasaran terhadap pasar saham semakin bertumbuh. Apalagi tanggung jawab pertama yang diembannya pada saat itu mengembangkan platform online trading.

 Baca Juga: Direktur Utama MNC Sekuritas Susy Meilina: Investor harus bijak menyaring informasi

Walau sama sekali buta dengan dunia saham, dia tidak patah semangat. Perlahan, Bernadus mulai belajar. Semula portofolio investasi yang dimiliki terdiri atas 70% deposito dan 30% reksadana, kini berubah menjadi 90% saham dan 10% deposito. Komposisi ini menurut dia yang paling pas untuknya agar nilai investasi yang dimiliki tidak banyak terkikis oleh inflasi. 

Setelah mengalami naik turun dalam mengelola portofolio, Bernadus mengungkapkan bahwa portofolio yang dimilikinya saat ini terdiri atas 50% investasi saham. Sementara sisanya, 50% untuk trading saham. Komposisi ini dipilih untuk melatih lebih memahami nasabah dan melatih intuisi. Bernardus mengatakan, kedua hal ini tetap diperlukan saat bekerja di sebuah sekuritas. 

Tidaklah gampang, itulah kesan pertama yang dirasakan Bernadus ketika memulai investasi saham. Saat masih menjadi investor pemula, dia pernah hanya ikut-ikutan dalam melakukan investasi. Kerugian pun tidak terhindarkan di masa-masa awal. 

Baca Juga: Direktur Sarimelati Kencana Jeo Sasanto baru berani investasi saham setelah IPO PZZA

Dari portofolio yang dikelola, dia pernah merugi antara 30% hingga 40%. Kerugian itu akibat ketidakdisiplinan dalam mengelola portofolio. Saham-saham sudah tampak berbalik arah, tetapi Bernadus tidak melakukan stop loss. "Hanya mengandalkan intuisi, saya yakin saham itu akan naik terus," ujar dia ketika awal-awal mencicipi pengalaman trading saham.

Pada saat itu dia merasa saham yang dipegangnya berasal dari emiten yang bagus sehingga masih layak dipertahankan walau banyak dilepas investor. Padahal kini dia menyadari, fund manager atau invetor asing melakukan aksi jual di suatu saham pasti memiliki alasan.

Editor: Wahyu T.Rahmawati