Disiapkan sejak dini untuk memimpin perusahaan (2)



Melanjutkan usaha keluarga bukan tanpa kendala. Sebelum menjadi perusahaan suku cadang terbesar di Jerman, Schaeffler Group sempat diterpa masalah. Mulai dari tuduhan kerja paksa karyawannya hingga kasus penggelapan properti yang menimpa saudara kandung Schaeffler. Melewati masa sulit, Schaeffler berhasil keluar dari kemelut internal perusahaan. Selanjutnya Georg Schaeffler berhasil menjadi perusahaan internasional dengan mengakuisisi perusahaan besar.

George F W Schaeffler sebelum terjun langsung menangani bisnis keluarga telah membekali pengetahuan bisnis dari University of St. Gallen, Swiss pada tahun 1986 hingga 1990. Ayahnya sengaja merekomendasikan jurusan bisnis untuk mempersiapkan generasi penerus bisnis. Agar kelak pewarisnya memiliki pengetahuan bisnis yang bermutu, paham, manajemen risiko, analisa bisnis hingga pengambilan keputusan yang tepat.

Sebab Schaeffler telah dipersiapkan menjadi penerus perusahaan suku cadang, Schaeffler Group. Setelah menyabet gelar sarjana, ia kemudian langsung bergabung dengan Schaeffler Group.


Selama enam tahun, ia mengabdi pada perusahaan keluarga mulai dari posisi menengah. Hingga pada tahun 1996, ia memutuskan rehat dari perusahaan karena ingin melanjutkan studi sarjana hukum dan master di Duke University.

Saat ayahnya meninggal dunia, secara otomoatis ia melanjutkan warisan bisnis. Sempat dikelola sang ibu, Schaeffler kemudian melanjutkan tongkat estafet bisnis. Miliarder dengan harta kekayaan bersih US$ 18,3 miliar rupanya sempat bekerja praktik hukum bisnis internasional di Dallas.

Besarnya cengkraman bisnis Schaeffler Group bukan terjadi secara instan. Banyak proses dan lika-liku terjal yang dilalui ayah Schaeffler, Schaeffler Senior.

Sejarah Schaeffler Group dimulai dengan pembelian Davistan AG sebesar 67% pada tahun 1939 oleh saudara Shaeffler Senior yakni Wilhelm Schaeffler. Majalah Cicero melaporkan bahwa Wilhelm merupakan anggota Partai Nazi dan melakukan kerja paksa kepada karyawannya untuk memproduksi senjata yang digunakan sebagai amunisi militer Jerman selama Perang Dunia II.

Davistan AG dibeli Wilhelm dari kreditur setelah ditinggalkan oleh pemiliknya seorang Yahudi pada tahun 1933 pasca Nazi mengambil alih kekuasaan di Jerman.

Editor: Tri Adi