Ditekan Trump dan data perekonomian, akankah The Fed kembali pangkas bunga acuan?



KONTAN.CO.ID - DENVER. Jelang pertemuan The Fed yang akan berlangsung pada 29 Oktober hingga 30 Oktober mendatang banyak orang mulai memprediksi sikap Bank Sentral Amerika Serikat ini terhadap kebijakan suku bunga acuannya.

Mengutip Reuters, Senin (7/10), Presiden Bank Sentral Federal Reserve Kansas Esther George menolak gagasan The Fed harus memangkas suku bunga untuk mendorong inflasi yang rendah.

Ia menilai inflasi di AS terjadi karena kekuatan global yang tidak bisa dilawan oleh kebijakan moneter AS.


"Dalam keadaan saat ini, kekhawatiran tentang inflasi yang rendah tampaknya tidak perlu. Ekonomi AS saat ini di tempat yang baik, dengan inflasi rendah, pengangguran rendah dan prospek pertumbuhan moderat yang berkelanjutan," kata George kepada National Association for Business Economics di Denver.

Baca Juga: Turun jadi 3,5%, angka pengangguran AS dekati level terendah dalam 50 tahun

Gubernur Fed Jerome Powell telah berulang kali menggambarkan ekonomi AS di tempat yang baik. Ia mendukung penurunan suku bunga AS sebagai kebijakan perlindungan terhadap efek memperlambat pertumbuhan global, juga meningkatnya ketidakpastian perang dagang ketika AS menaikkan tarif atas impor barang dari China.

Sebaliknya, George tidak setuju pada kedua pemangkasan suku bunga Fed pada bulan Juli dan September. The Fed saat ini menargetkan suku bunga jangka pendek dalam kisaran 1,75% hingga 2,00%. Sebagian besar pembuat kebijakan di The Fed mempercayai langkah ini bisa membantu mendorong pertumbuhan ekonomi AS.

"Jika saya melihat konsumen kehilangan kepercayaan mereka, dan itu bisa terjadi, maka saya mungkin memikirkan kembali. Apalagi saat ini pengeluaran konsumen telah kuat. Saya memikirkan putaran tarif terbaru ini yang sebagian besar akan menghantam konsumen, dan sejauh mana hal itu dapat menyebabkan reaksi," tambah George.

Editor: Herlina Kartika Dewi