Ditinggal Tokopedia dan Lippo, bagaimana prospek bisnis OVO ke depan?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dilepasnya 36,1 % saham Tokopedia di PT Bumi Cakrawala Perkasa, penerbit dompet digital dengan brand OVO, dinilai bakal berdampak buruk terhadap bisnis perusahaan pembayaran digital tersebut.

Pasalnya, sejak menjalin kerja sama bisnis dengan Tokopedia, mayoritas transaksi OVO berasal dari aktivitas jual beli di e-commerce terbesar di Indonesia tersebut.

“Keluarnya Tokopedia pasti akan berdampak pada bisnis OVO. Persaingan OVO di industri digital tentunya akan menjadi lebih berat dan tidak mudah. Apalagi Tokopedia sudah membangun kolaborasi bisnis yang sangat strategis dengan Gojek, sehingga posisi GoPay sebagai alat pembayaran akan menjadi lebih berkembang dan kuat di Tokopedia,” ujar Heru Sutadi Direktur Eksekutif ICT Institute dan Pengamat Ekonomi Digital dalam keterangannya, Rabu (6/10) kemarin.


Perusahaan venture building berbasis di Singapura, Momentum Works, dalam laporan terbarunya bertajuk 'Momentum Works Blooming Ecommerce in Indonesia' memproyeksikan nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) di Tokopedia sepanjang tahun 2020 mencapai sebesar US$ 14 miliar atau lebih dari Rp 200 triliun (asumsi kurs Rp 14.300 per dolar AS).

Baca Juga: Grab merapat ke OVO, bagaimana peta bisnis dompet digital di Indonesia?

Dengan keluarnya Tokopedia dari OVO, maka pangsa transaksi digital di Tokopedia yang sebelumnya masuk ke OVO akan beralih ke GoPay. Hilangnya kesempatan ini dinilai akan berdampak negatif terhadap valuasi OVO dan menjadi tantangan pada prospek bisnisnya.

Setelah adanya kombinasi bisnis antara Gojek dan Tokopedia yang membentuk GoTo, Tokopedia memang harus melepas kepemilikannya sahamnya di OVO. Hal ini terkait dengan regulasi dari Bank Indonesia (BI) yang melarang adanya kepemilikan atau controlling interest di lebih dari satu perusahaan jasa pembayaran.

Saham Tokopedia di OVO dikabarkan telah diambil alih oleh Grab Holdings yang sebelumnya telah menguasai 39,2% saham.

Selain Tokopedia, seperti dikutip dari Reuters, grup Lippo yang sejak awal mendukung kelahiran OVO di Indonesia juga melepas kepemilikan sahamnya. Sehingga pasca transaksi ini, sebanyak 90 % saham OVO akan dikuasai Grab Holdings. 

Sebagai informasi, sesuai peraturan Bank Indonesia perusahaan asing hanya boleh memiliki maksimal 85% kepemilikan di perusahaan jasa pembayaran. OVO dan Grab harus mencari pihak yang mau membeli saham OVO guna mematuhi peraturan.

Sementara, hengkangnya grup Lippo dan Tokopedia menciptakan tantangan bagi OVO untuk mencari mitra lokal lainnya yang idealnya memiliki ekosistem digital sehingga dapat mendorong bisnis pembayarannya.

Baca Juga: Menantang GoTo, Grab Siapkan Bisnis Finansial

Editor: Yudho Winarto