Dokter dan guru di AS ramai-ramai tolak desakan Trump untuk membuka kembali sekolah



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Kelompok masyarakat yang mewakili dokter, guru, dan pejabat sekolah nasional pada hari Jumat (10/7/2020) ramai-ramai menolak desakan Presiden AS Donald Trump agar sekolah-sekolah di Amerika Serikat kembali dibuka, meskipun ada lonjakan dalam kasus virus corona.

"Lembaga kesehatan publik harus membuat rekomendasi berdasarkan bukti, bukan politik," demikian pernyataan American Academy of Pediatrics, dua serikat guru nasional dan kelompok pengawas sekolah, selang beberapa hari diumumkannya ancaman Trump untuk membekukan dana pendidikan federal jika sekolah tidak membuka pintu mereka untuk tahun akademik yang akan datang.

"Kita harus menyerahkannya kepada para ahli kesehatan untuk memberi tahu kita kapan waktu terbaik untuk membuka gedung sekolah, dan mendengarkan pendidik dan administrator untuk membentuk bagaimana kita melakukannya," demikian bunyi pernyataan bersama AAP, Federasi Guru Amerika, Asosiasi Pendidikan Nasional dan Asosiasi Pengawas Sekolah.


Baca Juga: Waspada, AS mencetak rekor tertinggi harian kasus baru infeksi virus corona di dunia

Seruan mereka digemakan oleh dua kelompok medis - Masyarakat Penyakit Menular Amerika dan Asosiasi Kedokteran HIV.

Melansir Reuters, Trump meningkatkan ancamannya pada hari Jumat dengan mengatakan Departemen Keuangan akan memeriksa kembali status bebas pajak sekolah dan pendanaan federal mereka.

Presiden dari Republik itu pada pekan ini juga mengutarakan ancaman untuk mendeportasi siswa asing yang menghadiri universitas di Amerika Serikat jika sekolah mereka tidak menawarkan kelas secara langsung. Peraturan ini mendorong setidaknya dua tuntutan hukum.

Baca Juga: AS catatkan rekor harian kasus infeksi Covid-19 dengan jumlah lebih dari 60.500 orang

Desakan Trump untuk membuka kembali sekolah terjadi bersamaan dengan melonjaknya kasus virus corona baru di beberapa daerah yang paling padat penduduknya di negara itu. Kondisi tersebut mendorong beberapa pemerintah negara bagian dan lokal membatalkan rencana untuk melonggarkan pembatasan.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie