KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dollar AS jatuh ke titik terendah dalam empat tahun terhadap euro dan poundsterling pada Selasa (27/1/2026), setelah melemah sekitar 3 persen hanya dalam sepekan. Meski laju penurunan mulai melambat pada Jumat (30/1/2026), para analis menilai kondisi tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara. “Sebagian besar orang akan berpikir bahwa dollar seharusnya, bisa, dan akan melemah lebih lanjut tahun ini. Waktu pastinya belum jelas, tetapi arahnya sudah cukup pasti,” kata Kepala Riset Pasar Keuangan Global ING, Chris Turner.
Pelemahan dollar AS berdampak langsung pada daya beli masyarakat Amerika. Jika berlanjut, kondisi ini berisiko memicu inflasi karena harga barang impor menjadi lebih mahal. Di sisi lain, status dollar AS sebagai mata uang cadangan dunia, yang selama ini membantu menjaga biaya pinjaman AS tetap rendah, mulai dipertanyakan di tengah tren pelemahan tersebut. Sebelumnya, dollar juga sempat tertekan sepanjang 2025 setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif dagang. Lantas, apa yang menyebabkan nilai dollar AS semakin turun?
Baca Juga: Pemerintahan Trump Tambah 65.000 Visa Pekerja Musiman H-2B hingga September Penurunan nilai dollar setelah 10 tahun
Dilansir dari
BBC, Jumat, dollar AS mengalami penurunan setelah lebih dari 10 tahun menguat, dengan kenaikan tajam pada 2020 dan 2022 ketika pertumbuhan pasca-pandemi Amerika. Pada tahun 2025, nilai indeks dollar AS, yang mengukur kekuatan dollar terhadap sekelompok mata uang utama dunia, melemah hampir 10 persen. Penurunan itu merupakan yang paling buruk sejak tahun 2017. Sebagian besar penurunan itu terjadi beberapa Minggu setelah pengumuman tarif Trump. Bulan ini, dollar terus merosot seiring dengan meningkatnya ketegangan antara AS dan Eropa terkait Greenland. Kerugian tersebut terus berlanjut hingga minggu ini, di tengah spekulasi AS akan melakukan tindakan yang akan semakin melemahkan dollar. Salah satunya adalah langkah AS yang akan ikut menjual mata uang dollar AS di pasar valuta asing, bersama Jepang, dengan tujuan membuat nilai tukar yen Jepang menjadi lebih kuat.
Baca Juga: Ini Sosok Ketua The Fed Pilihan Trump Kevin Warsh Mengapa nilai dollar menurun?
Para analis mengatakan penurunan nilai dollar disebabkan kekhawatiran pasar terhadap kebijakan Trump. "Menurut pendapat saya, apa yang ditanggapi pasar hanyalah sifat kebijakan yang serampangan di pemerintahan ini, eskalasi, de-eskalasi," kata Robin Brooks, peneliti senior di Brookings Institution dan mantan ahli strategi FX di Goldman Sachs. Ia menyebutkan bahwa pergerakan nilai mata uang yang naik turun dapat lebih merugikan AS dibanding negara lainnya.
Sementara itu, Thierry Wizman, ahli strategi valuta asing dan suku bunga global di Macquarie mengatakan adanya ketegangan dengan Greenland menjadi salah satu penyebabnya. Terdapat juga faktor lain seperti meningkatnya peluang investasi di luar negeri, serta aksi jual pasar obligasi Jepang. Dollar pada minggu ini disebut lebih stabil setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyangkal AS ikut membantu Jepang menstabilkan dollar minggu ini. Namun, para analis mengatakan masih ada ketidakpastian tentang apa yang mungkin akan dilakukan pemerintahan Trump selanjutnya.