E-commerce diprediksi tumbuh 3 kali lipat, bisnis pergudangan turut terdongkrak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis penjualan lahan dan sewa pergudangan (warehouse) menjadi salah satu segmen usaha yang terdongkrak oleh tren pertumbuhan ekonomi digital, khususnya lewat perdagangan online atau e-commerce.

Peneliti Lembaga Manajemen FEB Universitas Indonesia Taufiq Nur menjabarkan, prospek bisnis pergudangan setidaknya ditopang oleh permintaan (demand) dari tiga sektor industri. Yakni manufaktur, logistik dan perdagangan yang di dalamnya terdapat e-commerce.

Sepanjang 2020 lalu, Taufiq mengemukakan bahwa e-commerce menjadi main driver ekonomi digital dengan pertumbuhan tahunan (YoY) mencapai 54% dibanding tahun sebelumnya.


Berbagai e-commerce besar seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Lazada menunjukkan trend peningkatan traffic selama pandemi karena adanya pembatasan mobilitas masyarakat.

Baca Juga: Pertumbuhan ekonomi digital turut menopang bisnis emiten pergudangan

Belanja online menjadi pilihan masyarakat sebagai alternatif melakukan discretionary spending yang biasanya bisa untuk berwisata. Adapun ketika traffic e-commerce meningkat, kapasitas gudang yang diperlukan juga menanjak.

"Tentunya hal ini juga berdampak sangat positif terhadap bisnis pergudangan. Artinya, ketika demand dari e-commerce tinggi, perusahaan e-commerce ini membutuhkan gudang," kata Taufiq kepada Kontan.co.id, Minggu (18/4).

Tak hanya e-commerce sebagai perdagangan online, potensi bisnis pergudangan juga datang dari berbagai fenomena sharing economy baru yang muncul selama pandemi. Misalnya dengan dark kitchen, co-warehouse, serta co-location untuk penyimpanan srver dan cloud.

"Jadi bisnis warehouse ke depan tidak hanya bisa meutilisasi model bisnis tradisional yang ada," sambung Taufiq.

Dalam lima tahun ke depan, sambung Taufiq, e-commerce diprediksi bisa tumbuh sampai tiga kali lipat dari saat ini. Hal ini akan berimplikasi pada semakin besarnya net leaseabl area (NLA) yang perlu disiapkan oleh perusahaan warehouse.

Selain itu, jika dilihat dari foreign direct investment (FDI) pemerintah sampai Q4-2020, total investasi untuk sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi mencapai lebih dari US$ 1 Milliar.

Editor: Yudho Winarto