KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan potensi penurunan produksi minyak kelapa sawit akibat El Niño di tengah lonjakan penyerapan program biodiesel 50% atau B50. Situasi pengetatan pasokan minyak mentah kelapa sawit (
crude palm oil/CPO) ini berpeluang menopang harga komoditas sawit sekaligus memengaruhi prospek kinerja emiten perkebunan hingga akhir tahun. Analis CGS International Rut Yesika Simak menilai dukungan kebijakan program B50 dan meningkatnya risiko El Niño masih berimbang dengan ketidakpastian implementasi badan pengawas ekspor Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Ketidakpastian tersebut berpotensi menimbulkan hambatan regulasi dalam alur transaksi ekspor komoditas sawit.
Baca Juga: Cek Saham yang Banyak Ditadah Asing Sepekan Terakhir Saat IHSG Ambruk 1,43% "Dalam jangka pendek, kami melihat El Nino lebih berpengaruh terhadap harga CPO dibandingkan volume produksi, sementara dampaknya terhadap produksi kemungkinan baru akan terlihat pada 2027," ungkap Rut dalam risetnya, (31/7). Ia menambahkan bahwa proyeksi kenaikan produksi CPO sektor perkebunan sebesar 12% pada semester II-2026 berpotensi mendongkrak pertumbuhan laba bersih. Peningkatan laba sektor perkebunan ini diperkirakan mencapai sekitar 7% secara tahunan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan prospek emiten CPO hingga akhir 2026 masih cukup positif. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa investor perlu mencermati risiko produksi dan volatilitas harga. Menurut Nafan, implementasi B50 sejak Juli 2026 diperkirakan meningkatkan konsumsi CPO domestik untuk biodiesel menjadi sekitar 16,3 juta hingga 17 juta ton per tahun. Kebijakan ini dinilai mampu memperkuat penyerapan pasar dalam negeri secara berkelanjutan.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$100, Rupiah Dibayangi Tekanan di Awal Pekan Senin (14/8) Penguatan penyerapan domestik ini diimbangi oleh tren kenaikan harga CPO yang berada di kisaran Rp15,5 juta per ton pada September 2026. Selain itu, potensi kenaikan permintaan dari negara pengimpor seperti India turut menjadi stimulus positif. Ia menambahkan bahwa dampak El Niño terhadap produktivitas tanaman memiliki rentang waktu jeda (
lag). Oleh karena itu, risiko penurunan produksi sebesar 4 juta hingga 5 juta ton baru berdampak signifikan pada 2027. Di tengah dinamika pasokan komoditas tersebut, emiten perkebunan mencatatkan variasi kinerja keuangan dan operasional sepanjang semester pertama 2026. Analis Phillip Capital Marvin Lievincent mencatat PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) membukukan pendapatan Rp 6,3 triliun pada semester I 2026 atau tumbuh 3,4% secara tahunan. Pertumbuhan top line DSNG didorong oleh kenaikan volume penjualan sebesar 2,2% dan peningkatan harga jual rata-rata (
average selling price/ASP) CPO sebesar 2,5%.
Baca Juga: Memerah di Pekan Ini, IHSG Bisa Rebound pada Pekan Depan? Meskipun margin laba kotor sempat tertekan oleh biaya pupuk, laba bersih DSNG melonjak 7,8% YoY menjadi Rp 986 miliar disokong oleh efisiensi beban keuangan. Pengurangan beban bunga secara efisien menurunkan pos pengeluaran bersih perseroan secara signifikan. Marvin menilai DSNG berada dalam posisi yang menguntungkan untuk menjaga konsistensi kinerjanya seiring dengan dorongan insentif mandatori biodiesel. "Kami memproyeksikan pendapatan akan tumbuh dengan CAGR sebesar 11,9% selama periode FY24-29F, didukung oleh peningkatan volume produksi dan permintaan CPO yang terus tumbuh, meskipun harga CPO diperkirakan akan mengalami normalisasi," tulis Marvin dalam risetnya, (31/7).