Freeport Indonesia Catat Penurunan Penjualan dan Produksi hingga Kuartal III-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatatkan penurunan produksi dan volume penjualan tembaga serta emas selama sembilan bulan pertama 2026.

Mengacu laporan induk usahanya, Freeport-McMoRan (FCX) pada Senin (27/10/2026), produksi tembaga dari operasi Freeport di Indonesia turun 43,2% secara tahunan menjadi 549 juta pon pada Januari–September 2026, dari 966 juta pon pada periode yang sama tahun lalu.

Produksi emas juga merosot 42,4% menjadi 505.000 ons, dibandingkan 876.000 ons pada Januari–September 2025.


Dari sisi penjualan, volume penjualan tembaga turun 64,5% menjadi 388 juta pon, dari sebelumnya 1,09 miliar pon. Sementara itu, penjualan emas menyusut 65,9% menjadi 332.000 ons, dibandingkan 975.000 ons pada periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Freeport: Peningkatan Produksi Tambang Grasberg Berjalan Sesuai Rencana

Kendati, di tengah penurunan produksi dan penjualan, harga jual rata-rata tembaga dan emas meningkat.

Berdasarkan laporan FCX, harga jual rata-rata tembaga pada Januari–September 2026 mencapai US$ 6,21 per pon, naik dari US$ 4,42 per pon pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, harga jual rata-rata emas meningkat menjadi US$ 4.583 per ons, dari US$ 3.357 per ons pada Januari–September 2025.

FCX melaporkan, PTFI terus meningkatkan produksi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave setelah insiden aliran lumpur eksternal pada September 2025.

Pada kuartal III-2026, volume pengolahan bijih rata-rata mencapai 141.000 metrik ton per hari atau sekitar 67% dari kapasitas. Angka tersebut mencakup 70.000 metrik ton bijih per hari dari tambang Grasberg Block Cave.

PTFI menargetkan operasional mencapai 80% kapasitas pada pertengahan 2027 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027.

"PTFI masih memperkirakan operasional akan mencapai 80% kapasitas pada pertengahan 2027 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027," terang laporan FCX.

Baca Juga: Smelter Freeport di Gresik Beroperasi Bulan Ini, Produksi 5.000 Ton Katoda Tembaga

Perusahaan juga telah memulai kembali produksi di Blok Produksi 2 dan 3 pada akhir Maret 2026.

Sementara itu, peningkatan sistem penanganan bijih ditargetkan rampung pada awal 2027, disusul rencana pengoperasian kembali Blok Produksi 1S pada pertengahan 2027.

Pemulihan produksi tambang turut memengaruhi operasional fasilitas pengolahan dan pemurnian. PT Smelting kembali beroperasi pada akhir 2025, sedangkan fasilitas peleburan milik PTFI mulai beroperasi kembali pada akhir Agustus 2026.

FCX memperkirakan selisih antara volume produksi dan penjualan PTFI masih akan relatif tinggi hingga fasilitas pengolahan dan pemurnian hilir kembali beroperasi pada tingkat normal.